Tuesday, March 18, 2014

Cerpen Trilogi Sosial

UJUNG DIATAS TEPI
Setiap detik adalah sejarah, sejarah yang tak bertepi, sejarah yang tak  berujung. Tetapi hanya selembar cerita dalam setiap rentengan waktu.
(Sahril_03 Mei 2013)

            “Fatima, aku bingung dengan setiap lagkah ini.” Sambil menatap mata Fatima
“kenapa res!?,(ujarnya, sambil menatap wajah restu), mengapa harus bingung?, tulislah sejarahmu dalam setiap waktu.” Wajah fatima yang pucat dengan suara yang remang-remang.
“ aku harus menulis apa?, aku melangkah dengan jutaan pikiran yang membias. Aku tak sadar akan adanya Tuhan. Tuhan telah terlelap tidur saat manusia mulai menggali lubang dosa.”
“mengapa kau mengatakan Tuhan tertidur, Tuhan tak pernah tidur, Tuhan selalu mengikuti setiap langkah dan menganalisis setiap waktu, setiap lubang kecil ia akan selalu perhatikan”
“tapi kenapa Tuhan tak pernah ada ketika semua manusia telah lalai, membuat kerusakan di muka bumi ini. Apakah Tuhan memang sedang tertidur panjang dan tak mau mengurusi dunia ini.”

“Restu, hati-hati dengan perkataanmu, Tuhan selalu terlibat dalam setiap kejadian-kejadian yang ada dibumi ini.”
“bukan kah setiap kejadian itu hukum alam, aku mulai ragu akan ada yang berkuasa didunia ini.”
“hati-hati dengan pikiranmu, nanti kamu kafir.”
“lebih baik saya kafir dari pada saya menciptakan kebenaran diatas kemunafikan, kenapa saya mengataka kemunafikan karena manusia mulai menciptakan kebenaran sendiri tanpa mampu mereka menjelaskannya, bagaimana kebenaran itu sendiri.”
“terserah kamu lah aku tak mau ikut jalan pikiranmu.”
“masih banyak yang harus kita bedah tim, kita bukan hanya sekedar menguji diri kita untuk Tuhan, tapi eksistensi Tuhan juga harus diuji.”
“lewat apa kau akan mengujinya.”
“ lewat rasionalitas, apakah perkataan yang telah ia wahyukan bisa di uji. Tanpa mengenal waktu ia tetap sejalan dengan perkembanagan zaman. Bagaimana mungkin aku harus mengikuti kebenaran yang tak sejalan dengan realitas, dan bagaimana mungkin prediksi-prediksi Tuhan akan tak sejalan jika memang ia yang mengendalikan semuanya.”
            Terdiam tanpa setetes suara yang terpancarkan dari bibir-bibir manis sang manusia, dedaunan sepi yang mereka

duduki tak memberikan isyarat apapun, hanya terdengar suara rintihan angin melambai-lambai di pepohonan yang rindang, tak bersyair hanya riuh dalam keruh. Wajah gersang sang kelana mulai melangkah menjauhi tepi setiap sudat yang mulai mengiringi langkahnya.
*******
            Pelita malam menutup cahanya dalam kegelapan. Sebuah desa yang sepi dan sunyi hanya suara percikan air dari gelombang yang sedang mengadu kepantai, entah apa yang sedang ia lakukan, entah mengapa pantai masih bertahan. Malaikat-malaikat seakan tersenyum melihat manusia yang sedang berfikir tentang sesuatu imajinasi yang baginya tak absolut. Yang baginya lembah kehancuran mencari sesuatu yang di ciptakan, akan tetapi mereka mulai mengejar imajinasi itu. Dan mulai menaruh segala-galanya pada imajinasi itu.
            Suara adzan berkumandang, menandakan waktu isya’ telah tiba. Fatimahh menuju masjid. Langkah yang begitu tertata rapi, dengan pakaian putih-putih, seolah-olah senyum sang malaikat mengikutinya. Ia melihat seorang pria duduk di depan rumah menghembuskan helaian rokok.
            “ res, gak sholat tah,” berdiri didepan Restu tak mau diam.
“buat apa sholat tim, cukuplah buatku mengingat saja, bukankah masih banyak yang harus aku pikirkan sebelum aku pergi sholat, aku harus memperbaiki moral dulu, mereka menyembah Tuhan akan tetapi tak bermoral apakah itu bukan sama saja dengan kemunafikan dari wajah-wajah manusia itu.”
“kamu salah, res,” denga nada yang pelan
“letak, kesalahanku dimana tim, coba kamu lihat dilingkungan kita, mereka mengaku ustatd, tapi mereka tak bisa berprilaku objektif. Mereka membela suatu kemunafikan, jika ia adalah keluarga mereka, aku kira agama mengajarkan keadilan, tapi adil dalam sholat saja,” sambil tersimpul ketawa kecil.
            “kenapa, kamu menjadi egois seperti ini kepada Tuhan.”
“bukankan sejak kecil kita di ajarkan egois, yang lebih tinggi dari kita sok-sok-an seolah-olah hanya mereka yang mengenal dunia ini. Bukankah sifat egoisme sudah ada sejak kita kecil. Hidup kebebasan dalam kesendirian. Manusia hanya ingin bersatu jika ada kepentingan. Dan keadilan ini telah punah. Apakah dengan sholat kita bisa merubah keadaan di dunia ini. Tanpa mau bertindak.”
“terserah kamu saja res, manusia hidup hanya untuk mencari ridho Allah SWT.”
“jika kamu percaya ridho itu, akupun percaya. Tapi banyak jalan. Aku tak bisa meninggalkan duniaku untuk urusan akhirat jika masih berat hati untuk meninggalkannya. Tugas kita sebagai khalifah dimana,? Tanggung jawab moral kita dimana,? apakah di masjid, atau di  sosial.? Aku kira Tuhan telah mengetahu segala-gala. Tuhan pasti tahu kenapa aku tidak sholat.”
“terserah kamu dah, aku pergi dulu.”
“iya sudah nanti kamu telat lagi, keburu iqamah.”
“iya, aku harap kamu bisa berubah.” Sambil melangkahkan kakinya dan menoleh kebelakang.
            Hari-hari ini Restu merasa resah, merasa terpuruk dalam keterasingan jiwanya tergoncang. Matanya mulai memerah, wajahnya pucat, mungkin terlalu banyak berfikir, terbisik dalam benaknya. “ kenapa aku butuh sesuatu yang di luar kemampuanku, yang diluar material. Apakah Tuhan berbisik kepadaku.”
Badanya gemetaran ia meneteskan air mata di sela sudut-sudut ruang yang memiliki lebar 4x4. Ia tertunduk, sambil memikirkan realitas yang terjadi, apakah yang di kejar manusia, manusia hanya sholat saja tetapi mereka lalai dalam mengabdi, mereka hanya mengejar Tuhan, akan tetapi tak mengejar keridhohan Tuhan, kemungkinan mereka sholat hanya ingin di puji saja mereka adalah manusia-manusia yang sholeh. Hingga mereka di anggap paling baik. Apakah agama islam, agama yang mengajarkan bagaimana  cara mengejar Tuhan saja, aku kira islam ini adalah agama yang humanis, sosialis, akan tetapi islam ini kapitalis. Islam adalah manifesto-manifesto politik dari kehidupan manusia. Berbuat atas nama agama. Tetapi apakah mereka tahu tentang hakekat agama itu. Manusia berpakain suci dan bercahanya. Akan tetapi hati mereka dalam kegelapan.

Restu mulai melangkah menuju rumah Fatima, yang tak jauh dari rumahnya. Malam yang membias, pedagang-pedagang malam mulai menampakkan wajahnya. Jalan semakin remang dan membias. Restu telah tiba didepan rumah Fatimah.
“assalamu alaikum................”
“wa’alaikum salam...... masuk res,”
“wah lagi ngapain Tim, kanyaknya lagi sibuk ya.”
“ gak ko’. Ni lagi beresihin buku-buku.”
“wah rajin juga kamu baca buku ya.”
“bukan, Abi tadi yang baca buku.”
“ohhhh....” Restu sambil terkesima tanpa melanjutkan perkataannya.
            Mereka berdua duduk sambil menulis sejarah tanpa tepi dan ujung. Hanya akan ada ketertundaan sementara, mata Fatima melirik kepada Restu, Restu hanya terdiam dan tersimpul malu, mereka saling melirik tanpa bias kata, hanya suara detak jarum jam. Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya datang.
            “ehh,,. Ada Restu, udah lama res,”
            “baru, dateng ko ustad,” sambil menundukkan badan
            “akhir-akhir ini aku jarang melihat kamu di masjid res,” Fatima langsung memotong sebelum Restu menjawab,

“iya ni Bi, masa katanya dia tak percaya lagi sama Tuhan,”
            “wah bahanya pemikiran kamu ini res,”
            “tidak ko’ pak ustad, aku hanya rekarnasi saja tentang kebenaran.”
            “sudah dapat kebenaran.”
            “belum yang aku dapatkan hanya kemunafikan saja.”
“Kalau bisa perbaiki saja, pola pikirmu, karena kamu takkan mendapatkan kebenaran jika kamu selalu ragu. Kebenaran itu hanya ada buat orang-orang yang percaya pada kebenaran.”
“tetapi pak, ustad, masa aku akan percaya, jika aku melihat tokoh-tokoh masyarakat kita yang sudah tidak diragukan lagi agamanya. Ingat tidak minggu lalu, ketika kita sholat, di masjid jami’. Imamnya adalah tokoh tersepuh. Dan yang barisan dibelakangnya adalah anaknya sendiri. Imamnya melebihkan rakaat, kenapa tidak ditegur.”
“mungkin anaknya juga lupa,”
“masak dua-duanya lupa. Aku kira semuanya sudah tidak berbicara objektif, semuanya di politisi, apa yang mereka lakukan adalah karena agama mereka adalah agama kemunafikan, mereka berbicara kebenaran, akan tetapi kebenaran melalui tolak ukur mereka sendiri, tak mau berbicara idealis, apakah islam mengajarka seperti itu pak ustad.
“kamu mungkin, yang tak memahami mereka, jangan memfitnah.”
“kita lihat saja pada realitas pak ustad, coba jika ada diantara keluarga-keluarga yang bukan termasuk Kerabat tokoh-tokoh masyarakat kita, ketika melakukan sesuatu semuanya berteriak, atas suatu kezaliman, akan tetapi ketika mereka bertindak sebebas-bebasnya. Bahkan pesantren kita, yang dimana tokoh yayasannya dinaungi oleh ustad matrsuki sendiri. Apa yang dia lakukan dia telah membuat surat kepemilikan tanah, sedangkan yang memiliki tanah sendiri, di hapuskan namanya dari pendiri pondok pesantren itu, apa maksudnya, Kalau bukan hanya untuk mencari nama, dia adalah kaum-kaum borjuis, yang punyak modal, dengan Moral palsu, dan Iman Munafik.”
“jangan  sering mengkritisi orang, lidahmu bisa saja membawa kehancuranmu, hargailah mereka sebagai seseppumu, di mana etikamu”
“apakah aku harus menjual nilai idealisku, dengan kata etika, aku kira aku akan menjual etikaku dari pada menjual idealismeku.”
“iya tapi hati-hati.” Dengan nada yang agak keras
“iya pak. Ustad terimakasih atas nasehatnya. Salam saya saja kepada mereka, terima kasihku, mereka telah memperkenalkanku tentang Tuhan, malaikat, dan nabi kepadaku, lewat syari’at. Tetapi kenapa mereka malah tambah membuatku bingung akan Tuhan, malaikat-
96

malaikat, dan nabi.”  Dengan suara yang lembut tak ingin memanaskan susasana.
“kenapa kamu bingung dengan syari’at itu res, bukan jelas mereka mengajarkanmu bagaimana sholat, bagaimana berprilaku baik, bagaima membentuk moral.”
“ah, hanya berteori saja pak, hanya sebagai kata, hegemoni saja, bagaimana kita bisa berprilaku baik sama mereka. Bagaimana mereka di anggap yang memiliki ilmu tingkat spritual tinggi. aku berfikir, seharusnya aku bebas untuk berfikir sendiri, atau berijtihad, coba kita lihat runtuhnya peradaban islam dari persia, bagi mereka yang terlalu fanatik kepada imam maliki. Sehingga banyak buku-buku yang mereka bakar.”
“sudahlah res, kamu jangan terlalu banyak mengkomsumsi pemikiran-pemikiran, malah kamu akan kafir, kamu akan menjadi korban filsafat.”
“kenapa pak, wong, produknya saja kita konsumsi, yang penting bagaimana kita pintar-pintar menyaringnya pak ustad. Manusia ini kok sibuk menyalahkan orang yang sedikit berfikir rasional malah dikatakan kafir. Padahal aku yakin. Serasional-rasional orang berfikir maka dia juga akan menemukan titik terakhir dimana ujung akar itu, yang pastinya tak mampu menembus inti bumi. Begitupun bagi saya pasti kita akan menemukan titik terakhir yang pada suatu kesimpulan ada sesuatu yang diluar kemampuannya kita. Yang inti dari semua inti, yang berkuasa dari semua yang berkuasa.”
“aku tau kamu paham, tapi kenapa ko’ kamu gak mau menyembah Tuhan.”
“aku tak mau Tuhanku dijual atas jalan menuju kekuasan pak. Mungkin aku juga ingin mengubah semunya lewat netralisasinya saja.”
“netralisasi yang seperti apa yang kamu maksud.”
“aku ingin merubah, sesuatu dengan kontradiktif, presepsi yang berbeda denga para kaum munafik itu, sehingga semua manusia bisa berkaca bahwa, orang yang kelihatan rajin ibadah mereka belum tentu bisa terlibat dalam peradaban, mereka hanya mementingkan kehidupan akhirat saja,meski aku tahu akhirat mereka adalah dunia mereka, mereka menjual nama Tuhan untuk kepentingan mereka.”
            Nampaknya ustad, yono. Tak mau memberikan sanggahan dan menentang apa yang Restu katakan,
“jalan teruslah nak, kamu seolah-olah adalah burung yang keluar dari sangkar, yang mulai menjelajahi mimpi-mimpi manismu. Tetapi jangan lupa ibadahmu, karena Tuhan akan memberikanmu jalan, dari niat tulusmu.”

Semuanya hanya diam nampaknya jam mulai ada dalam waktu-waktu yang mulai sempit untuk berdialog, mungkin mimpi menunggu untuk berdialog. Restupun mulai jauh melangkah meninggalkan rumah Fatima, hingga semunya samar-samar.
*****
Tapak tilas telah meraung dalam dimensi yang menggoresi setiap detak dan ujung sejarah tanpa tepi. Musafir-musafir hidup telah tersesat dalam belantara kehidupan semuanya hanya terdiam tanpa tepi, tanpa ujung sejarah yang selalu berjalan bebas, mungkin dalam imajinas Hegel adalah sejarah yang demokrasi, mungkin kata karl marx dealektika sejarah, dan kita akan menemukan sebuah realitas hingga sampai pada dedaksi bahwa kesadaran akan membentuk sebuah realitas. Eksistensi manusia adalah mencetak sejarah, manusia adalah sejarah, tetapi apakah manusia selalu berprilaku tidak adil dan sering melakukan penindasan-penindasan. Hingga semua sejarah berkata lewat darah dan tangisan. Berdialog dengan bendera-bendara, katanya sih idealisme, tetapi tercampur kotori oleh lumpur-lumpur politik.
Restu mulai berdialektika denga alam, melakukan rekarnasi, bagaimana iya akan membuat suatu perubahan,ia berfikir dirinya sendiri tak punya peran penting dalam masyarakat, masyarakat dikuasi oleh orang-orang borjuis, yang memiliki modal keimanan palsu, ia hanya berfikir apakah manusia-manusia disekelilingnya hanya mau diperintah saja tanpa mau mengkritisinya. Dalam kesendirian ia mulai membasu muka dari ujung telapak tangannya hingga sampai ujung kakinya, aku kira aku juga tidak tahu apakah yang ingin ia lakukan.
Sajadah-sajadah panjagnya mulai ia buka, ia ingin merasakan sesuatu yang diluar kemampuannya, ia sudah beberapa hari selalu bekerja, dengan dialektika alam. Pikiranya ia kuras, sampai badanya seolah-olah hanya tengkorak yang dibungkus kulit saja.
Ia mulai melakukan sebuah pekerjaan, banyak orang mengatakan pekerjaan bertegur sapa dengan Tuhan menghadap Tuhan, sesekali itu ketika rakaat kedua Restu meneteskan air matanya, secara perlahan-lahan, ia mulai hidup dipipi kasih, hanya hidup beberapa waktu saja, ia langsung kehabisan nafas di ujung bibir yang penuh kemunafikan. Bagitupun manusia menemui sebuah ajal, dimana kematian ini kita tak mampu meramalkannya. Tua, muda, bahkan yang belum lahir saja, sudah menemukan ajalnya.
Restu mulai melakukan sesuatu dimana kemandirian tak tampak lagi, ia berdo’a kepada sesuatu yang tidak terlihat, akan tetapi sesuatu itu sangat jelas terlihat, bahkan sangat jelas daripada manusia-manusia disekelilingnya. “ya Allah, kenapa aku ini, kenapa aku mulai jauh darimu, aku merasa nyaman, ketika aku menyakinimu. Meski aku di tindas, akan tetapi mengapa orang yang sering menghadapkan muka kepadamu, tak menampakkan ajaranmu, apakah mereka hanya beragama saja tetapi tak berTuhan, aku tahu, engkau ya Allah kau mengajarkan keadilan, engakau mengajarkan agar kami tidak pilih kasih, aku tak mengerti apakah yang mereka inginkan, apakah tujuan mereka. Jika aku seolah-olah tak beragaman, tetapi aku tetap berTuhan kepadamu ya Allah, aku percaya engkau ya Allah, aku percaya ajaranmu tak seperti mereka, mereka terkadang menjualmu, atas nama ahlaq, supanya mereka di hormati, itukah ajaranmu, aku rasa tidak, jernihkanlah pikiran ini ya Allah, aku tahu engkaulah yang memberikan aku pikiran, dan engkau pula yang mampu menghilangkan pikiranku.”
Restu tetap merasa sepi, dan badannya jatuh, ia terdiam sejenak dalam kertas bayangan, ia mulai lesu, ia tak pernah bersuai, sejarahnya telah terhenti di ujung tinta, ia telah lama tenggelam, mungkin karena ia tak pernah lagi di bayangkan. Sehingga iapun mulai kehilangan nafas, karena ia hanyalah sebuah imajinasi, yang di kendalikan dan di atur sampai kapan ia akan hidup dan terlibat dalam kehidupan. Meski terkadang ia membrontak kepada imajinator kenapa ia selalu disuruh berfikir, ia capek untuk berfikir, tetapi ia dikendalikan oleh sesorang yang berbeda dengan dia, yang di luar kemampuannya, meski ia ingin ketemu, akan tetapi ia tak bisa meninggalkan esensinya, jika ia memaksakan kehendaknya untuk ketemu sang penulis maka iapun akan tenggelam dan terhapus dalam sejarah, dan mati.
*****






TEPI YANG BERUJUNG
“ Setan menari-nari bebas, di atas noda, manusiapun mulai tertawa dan bertepuk tangan diatas panggung Neraka”
(sahril B.S)
            Raut-raut muka yang tergambar jelas, di setiap lembaran yang musnah, dan hangus, setiap kenangan yang berlalu, adalah hari-hari yang mencari keabadian. keabadian yang tersimpan setiap waktu. waktu yang sangat berarti, yaitu kesepian.
            Perci’an cahaya terbungkus dalam binar-binar kegelapan, segumpalan tetesan air mata yang menetes dalam setiap binar kegelapan, isyarat-isyarat manusia lewat tatapan muka yang bembus, tapi hati masih menggantungkan kekuatan, kekuatan adalah kebenaran.
“jika aku masih dalam kesepian, dan semuanya telah berlalu, apakah eksistensiku ada dalam kesepian ini, mungkin saja, akan tetapi ini semua menjadi enggang untuk aku jalani. Karena aku membutuhkan sesuatu yang tak lain adalah orang yang harus ada dalam pikiranku.” Pikiran ini menjadi sesuatu yang sangat memukul bagi restu, dalam setiap kertas kusam yang selalu ingin ia tulisi, dalam setiap surat yang ingin ia rangkai.
Restu mulai melangkahkan kaki, kala malam merunjuk dalam kepian, dan kesepian yang tak satu setanpun tahu kemana ia akan melangkah, semua hanya tergambar lewat tapak tilas yang tak berarti, tahun-tahun kini telah berlalu, semuanya telah tergambar jelas dalam raut muka, yang tampak berbinar, nampaknya, semuanya telah terbayar lunas dalam sejarah masa yang suram, hanya ada tepi yang selalu terbayang menjadi sebuah bungkusan keabadian dalam diri restu, yaitu perubahan.
******
            Kini semuanya terasa berubah wajah manusia telah lalai dalam pandangan demokrasi, kritis tak boleh tampak, hanya ikut mengalir dalam setiap waktu, hingga ke abadian tak nampak lagi. Maka keabadian dalam setiap ego tak tampak pada manusia, manusia tak mampu menciptakan sesuatu yang merupakan nilai, bukankah setiap waktu adalah kemenangan, semuanya takkan berarti jika, tak menciptakan kenangan dalam keabadian, yaitu kemenangan untuk bebas.
“wahai saudaraku, apakah kamu lupa, dalam kebersaman kita, aku merasa sendiri dalam melangkah, meski kau ada bersamku aku merasa sepi.” Menatap wajah javid, denga raut muka yang sangat mendalami kata-kata itu.
“mengapa, apakah kau bosan terus berjalan, kini kita bagaikan tumbuhan di setiap tepi, kita adalah pelayar dalam kolam, yang di perankan.”
“tetapi apakah peranan kita tak bisa menjadi nahkoda, dalam setiap awak kapal itu, lihat bagaimana orang lain, bisa mengendalikan semuanya. Nampaknya aku mau mendengar musik-musik indah yang jauh dari tepi ini"

“kita, ada di tepi,  jauh dari daratan, kita adalah tumbuhan, yang tumbuh dari setiap tepi itu”
“apakah akarku tak bisa menjalar sampai kerumah-rumah, aku merasa sepi, aku ingin bersandar, dari setiap tepi yang aku jumpai. Tepi itu malah membuatku bosan, tak bisakah aku melangkah ketengah-tengah dimana setiap manusia mulai menari-nari bersama, tanpa ada sedikitpun orang yang duduk menyendiri, ketahuilah saudaraku bahwa kesendirian itu sungguh tidak enak.”
“nampaknya, semuaya tak kau sadari, sudah berapa lama kau dalam kesendirianmu, sudah berapa lama kau membayangkan semua ini, menjadi satu kesatuan, kehendakmu bukanlah suatu yang baru, tetapi semua orang berkehendak. Tetapi kebenaran masih kalah dalam kekuatan, kekuatan itulah yang membawa kemenangan. Kau tak punyak apa-apa untuk menutupi semuanya, kecuali kesepianmu. Mungkinkah kamu akan mengatakan suatu kesalahan, sedangkan kamu tak mampu membayangkan semua apa yang benar, apa yang benar itu adalah sesuatu yang memiliki kekuatan yang tak terbantahkan, maka kekuatan masih mengalahkan kebenaran.”
“nampaknya kau masih, menganggap semua kekuatan, kau tak tahu kekuatan yang ada pada, apa yang belum kita ketahui, kebenaran itu yang mengatur dari kekuatan, kekuatan yang tak tampak. Kekuatan pada kita adalah sesuatu yang masih relatif.”

“tetapi, kamu takkan pernah bisa melangkah kecuali kamu tak mau membangun kekuatan itu, kesepian akan selalu menemanimu, kau akan tetap ada pada ujung.”
“aku sangat merindukan orang-orang bijak itu, manusia yang bebas dalam keterikatan, buat apakah kita hidup dalam kehidupan ini, wahai saudaraku, rasanya aku merindukan bumi kita, aku ingin berdansa dengan alam-alam kita, hingga sampai saatnya aku ada di ujung dengan sebuah kenangan keabadian. Dan kini kita harus meninggalkan dunia ini, dan kita mulai menatap luas langit, terus menatap langit, hingga kita lupa kita menjatuhkan duri dari setiap jalan yang kita lewati.”
“ingatlah, kita adalah satu kesatuan, res, kau benar tetapi jangan sampai kau tenggelam dalam kesepian itu, karena kau hanya memberikan sebuah ilusi pada sebuah ladang, padahal kau ada ditepi.”
*****
            Suara  samar-samar menetes dari setiap wajah yang gersang, mereka hanya merenung dalam setiap kata-kata, dalam akar yang mulai menjalar menuju pagar. Semuanya di tebang ketika akar-akar itu menjalar, jika restu mulai berfikir apa yang selama ini mereka pikirkan, semuaya terhenti, karena semua hanya semu belaka orang-orang bijak, atau sok bijak mereka memotong lidah yang mulai mencari ke esaan tuhan, mereka memperkenalkan tuhan dengan kebingungan yang menjerujuti pikiran restu.

“hai restu, apa yang kau lakukan, tidak kau sadar, semua keritikanmu membuatku, di musuhi oleh masyarakat, kau mengatakan aku tak bermoral, aku menjual tuhanku dengan manifesto-manifesto politik, sungguh betapa tajam perkataanmu yang membawaku pada suatu keterpurukan.”
“tanpa, mengurangi rasa hormatku, aku tak sedikitpun ingin menjelekkan pajenengan, akan tetapi, aku hanya berkata apa yang aku pikirkan, jika semua salah, semua orang akan meninggalkanku, dan tak mau mendengarkanku. Apakah seperti ini orang yang bijak, datang dan marah tanpa, memikirkan semuanya, dan berdialog lewat kepala dingin. Aku yakin, tuhan tak mengajarkan kita seperti ini.”
“hei, kamu tak usah mengguruiku, kau yang harus banyak belajar agama. Etikamu dimana,”
“aku, tak punya etika, karena para tokoh yang harus kami ikuti juga mengajarkan etika penguasa, kami bukanlah budak yang akan selalu membenarkan pajenengan, akan tetapi, pajenengan membuat kami bingung, akan semua penerapan tentang agama. Atau mungkin pajenengan terlalu melampoi batas sehingga melupakan kami yang di bawah.”
“hati-hati dengan bicaramu.” Tanganya melayang hingga meninggalkan bekas yang memerah pada muka restu, sunyi menghampiri suasa itu, jejak lelaki tua yang datang menghampiri restu, kini hilang kembali, semuanya telah sirna.

Restupun kini hanya terdiam menatap semua itu, “apa yang sudah aku lakukan” ibunya datang menghampirinya, dan menangis, di hadapan restu.
“apa yang membuatmu seperti ini nak.” Dengan suara yang lirih
“aku tak tahu buk, tapi aku tak mau kita direndahkan, kita diatur, mereka bukan pencipta nilai dalam dunia ini, mereka yang selalu ingin benar, apakah kebenaran hanya ada buat mereka, mereka memperkenalkan tuhan yang membingungkan terhadap kita, apakah mereka tak sadar akan semua itu, bahwa mereka telah menciptakan nilai atas nama tuhan, padahal mereka sendiri melanggar nilai tuhan. Tidakkah mereka sering membuat ibu menangis, ayah tersiksa, karena penilaian mereka yang tak objektif, mereka bumkan seolah-olah, tak pernah ada dalam keadaan. Ketika kita memiliki masalah dengan keluarga mereka, apa yang seharusnya dilakukan tak pernah mereka lakukan, aku yakin mereka sadar bahwa keluarganya salah, makanya mereka bumkam. Inikah wajah-wajah orang yang bijak, aku rasa tidak.”
“biarlah, nak, orang lain selalu menyakiti kita, yang penting kita ihklas menerimanya, suatu saat nanti mereka akan berubah.”
“sampai kapan buk. Mereka akan sadar, sudah cukup semua ini kita lewati, lihat kejayaan mereka turun temurun, anaknya di ajarkan nilai agama yang nehil, bahkan semua jalan mereka lalui, bagaimana anaknya bisa lulus dari pondok. Memang mereka lulusan pondok akan tetapi apakah jiwa mereka adalah pemimpin, kasihan saya melihat realitas semua itu.”
“Tabahlah nak menerima semua itu”
Semuanyapun terdiam tampa suara-suara yang membumkan, akhirnya tak ada sedikitpun  kata-kata yang terdengar dan pembrontakan sejati, kemudian nampaknya masyarakat kembali pada pendirian mereka. Kini setiap alur waktu restu tercampakkan, di cemooh dan dituduh musuh tuhan.
Restu tak tahan lagi dengan keadaan ini, iya ingin keluar dari keadaannya, dan ia ingin membrontak, tak mau lagi terlibat. Hingga seorang temannya fatima kini hilang, semua tak mau bergaul dengannya kecuali javid. Iya adalah dinamit yang bisa menghancurkan keimanan  seseorang.
Restu kemudian pamitan kepada ibunya, untuk berkelana, “ibu, aku ingin pergi dan mencari ketenangan, nampaknya alam ini tak bersahabat denganku.”
“nak, dimanapun kau berada, kau tetap akan di uji, kau tetap akan terasingkan jika kau tak mau mengikuti pola hidup mereka, dan tak mau di atur.”
“aku tak mau berbicara itu lagi bu, aku pergi, mencari ketenangan jiwa dan menyendiri disetiap waktu, hingga aku siap, menjadi seorang budak.”

Langkah kaki restu kini mengiringi deraian tangisan ibu,  setiap langkah hanya do’a-do’a yang terdengar dari ibunya, “semoga kau mendapatkan cahaya itu anakku” setiap jalan yang ia lewati orang keluar dan melihat restu, mereka berbisik, nampaknya desa kita akan aman dengan tidak adanya restu, ada yang tersenyum melihat perjalanan restu. Restupun semakin jauh melangkah hingga bayangan seorang anak kini hilang jatuh bersama air mata seorang ibu. “nak aku, akan selalu berharap kau datang dengan cahayamu”.
*****
            Berlalunya waktu yang semakin berlalu tak bisa di hentikan, restu kini berjalan terus, ia bertemu dengan seorang perempuan yang menangis di ujung jalan. “wahai saudariku, mengapa kau menangis. Dan sendiri dijalan ini.”
“aku, kabur dari penjara-penjara kezinaan, aku muak dengan kehidupan ini. Aku hanyalah sebuah barang, yang bisa saja di beli oleh siapapun, perutku setiap malam teriris, aku merasa sedih, aku ingin ada yang membelaiku, karena ingin menjagaku, aku ingin menikmati, kenikmatan itu di rerumputan yang berbau surga, bukan di dalam kebohongan yang mengiris hati dalam kezinaan.”
“mengapa, mencari jalan untuk mencari kesepian, kau meninggalkan kelompokmu. Bangunlah dari mimpi burukmu, tapi jangan tinggalkan hidupmu.”
“siapa, yang akan menerimaku, dengan keadaanku seperti ini. Aku kotor, aku hina.”
“kau, sama saja sama mereka, di jalan-jalan yang rias dan bebas, mereka terkadang melakukan apa yang kamu lakukan, bukankah mereka menjualnya dengan cinta. Itupun cinta yang bisa di beli dengan harga yang lebih murah. Kau masih lebih baik dari pada mereka wahai saudariku, kau masih mengakui dirimu. Kau masih bisa berkata jujur kepada orang lain, sedangkan mereka menutupinya. Mereka hidup dalam kebohongan, tuhan akan menunjukkanmu jalan. Taubatlah wahai saudariku, jika kau merasa dirimu salah.”
“adakah taubat bagi orang yang seperti diriku ini, sudah lama menata kehidupan dalam kegelapan, apakah dosanya bisa di hapuskan dengan amal-amal  fardhu saja dan shadaqah ataukah dia harus melaksanakan ibadah haji untuk menghapuskan dosa besar yang pernah aku perbuat ini, dan bolehkah saya menikah dan apakah haram hukumnya saya menutupi, kejadian masa laluku kepada suamiku kelak, dan suatu saat kelak ketika saya hidup bersama suami saya dengan kondisi seperti itu hidup dalam kepian yang selalu membayangi, apakah itu tidak termasuk membohongi pasangan.”
“wanita, yang telah melakukan dosa yang sangat besar. Dia telah melanggar keharaman itu yang tuhan tetapkan, dan keharaman (fahisah, perbuatan hina/buruk). Maka wanita itu hendaknya bertaya kepada dirinya sendiri. Bagaimana kalau seandainya tuhan mencabut nyawanya sementara dia dalam keadaan seperti ini,  karenanya wajib baginya untuk bertaubat kepada tuhan dengan taubatan nasuha (taubatan yang bersungguh-sungguh), dia juga harus bertekad untuk tidak mengulangi lagi dosa besar  semacam ini, kemudian dia harus memperbanyak istigfar dan bershadaqah serta terus menjaga ibadah sholat dan do’a. Semoga dengan semua itu allah menerima taubatanmu. Dan satu hal yang perlu dicatat dia wajib untuk menutupi aib dirinya tersebut dan tidak memberitahukan masa kelamnya kepada seseorang, semoga allah menutupi aibnya.”
“terima kasih wahai saudaraku, kau telah memberiku motifasi, tetapi bagaimanapun aku telah tidak berlaku adil terhadap suamiku kelak. Jika berpegangan tangan, pandangan mesra, pelukan,ciuman, dan bahkan lebih dari itu sudah saya lakukan dalam kehidupanku. Lalu apa yg tersisa untuk suami kelak.? tiada kebanggaan yg pantas aku berikan pada pasanganku kelak selain kesucian jasadku. Sedangkan aku terlanjur berbuat dosa. Betapa aku berlaku tidak adil pada  jodohku walaupun dia mau menerima aku apa adanya. Bagaimana Aku akan menyerahkan diri didepannya dengan aib dan dosa-dosaku sementara pasanganku begitu sangat mencintaiku,,, padahal diriku penuh dengan dosa sebelum menikah denganya, dan kalaupun aku tutupi itu demi pernikahanku, tak sanggup rasanya hati ini membayangkan itu, ketika pasanganku tersenyum gembira di malam itu sementara aku hanya mendekap menyesali siapa diriku, duh betapa tak adil baginya,,,.”
            “taubatlah, insyaallah allah akan memberikanmu yang terbaik.”
            Restupun berjalan meninggalkan sosok seorang wanita itu dan ia selalu melangkahkan kaki tampa, setetes demi setetes, selalu terbayang dalam benaknya, tentang tamparan yang sempat ada di mukanya. Dalam perjalanan ia bertemu seorang kakek tua, “wahai anakku, mau kemanakah kau, sepertinya kau tak punya tujuan.”
            “aku sedang mencari, sesuatu yang tak pernah dicari.”
            “dari mana kamu akan menemukan itu.”
            “dari keyakinanku, aku pasti menyadarinya saat aku merasakannya.”
“tak akan ada sesuatu yang akan engkau temui, dan takkan ada kebenaran yang akan engkau selami, selama ini adalah sesuatu yang semu.”
“berarti tersmasuk engkau adalah sesuatu yang semu, maka aku harus meninggalkanmu, karena sia-sialah aku dan waktuku, jikalau aku bertemu denganmu.”
Restu melanjutkan perjalanannya, dari barisan pepohon dan rumah-rumah yang memiliki pola pemukiman berjauhan, tak ada sedikitpun yang menjumpainya. Yang ia temui adalah seekor semut yang sedang membawa belalang, dengan pola kerjasama yang teratur, iya sangat kehausan, iya melihat sumua kemudian  mulai mendekati sumur itu, semakin dekat kesumur itu, iya melihat ternyata sumur itu kosong. Tampa sedikitpun airnya.
Restu melanjutkan perjalananya, iya melihat suatu bangunan yang megah, rumah yang berhiaskan permata dan emas, tetapi tak ada sedikitpun penghuninya.  Nampaknya pintunya tak dikunci dan pintunya dibiarkan terbuka lebar begitu saja, ia melihat isi rumah itu banyak barang-barang yang berharga. Iya heran dengan rumah itu, aneh sekali rumah yang begitu megah, dan penuh barang-barang yang berharga, tak ada sedikitpun penghuninya, kemanakah mereka. tak lama  kemudian datang seorang lelaki setengah baya, menghampirinya.
“ada tamu, ada keperluan apa mas.”
“tidak apa-apa pak, saya adalah seorang musafir, yang sedang melakukan perjalana, dan saya lagi mencari tempat perteduhan, dan saya haus.”
“kalau seperti itu, silahkan masuk.”
Restu terkejut ketika didalam rumah itu, iya melihat beberapa meja, makan yang penuh dengan makanan, di meja satu ada makanan yang penuh dengan daging babi dan minuma-minuman yang memabukkan, di meja dua yang penuh dengan makanan ayam dan bayak kurma, bahkan minumannyapun air zam-zam. Iya bertanya kepada pemilik rumah itu , kenapa semuanya di bedakan-bedakan.

“didunia ini bukan hanya ada satu agama, maka bukan Cuma kita yang hidup, maka akan aku terima sebgai tamu siapapun yang datang kerumahku, ketika ia resmi menjadi seorang tamu, bukan perampok yang mau merampok rumahku.”
“kenapa tadi rumahnya tidak dikunci, padahal didalamnya banyak sekali sesuatu yang berhaga.”
“adakah, yang lebih berharga di dunia ini, selain saling memberi dan mengenal satu sama lain. Adakah yang lebih berharga selain dari keimanan kita.”
Akalnya tak mampu memahami, iya melahap begitu saja makanan yang tersedia di meja yang penuh dengan makanan ayam dan buah kurma. Selesai ia makan ia melanjutkan perjalanannya, dalam suatu perjalan ia bertemu dengan seorang yang berbadan kekar, iya mengambil jalan lain, karena jalan itu di penuhi oleh pereman-pereman.
Tapi ia terkejut melihat, tingkah laku seorang pereman itu betapa ia ramah, mengantarkan nenek tua menyebrang jalan. Sesekali ada seorang pemulung yang sedang membawa sampah-sampah yang ia kumpulkan, para pereman itu membantu mereka ketika kesulitan, tetapi di suatu sudut jalan, terjadi sebuah hal yang mengebohkan, mobil mewah berjalan menuju kakek tua itu dan menabrak beberapa sampah yang sudah di tata rapi oleh kakek tua, para preman itu menghubungi teman-temanya yang ada di ujung jalan, dan menyetop mobil yang lajunya kencang, dengan menaburkan beberapa paku di jalan. Terhentinya mobil itu di jalan. Mereka mendekati mobil itu dan keluar sosok seorang yang berjenggot panjang seperti seorang yang ada di tanah suci, tetapi tak banyak omong, mereka langsung memukul orang tersebut, hingga luka, dan mengambil beberapa barang yang berharga dari orang tersebut, akan tetapi datang beberapa orang yang atas namakan jihat, mereka menuntuk agar setiap anak jalanan di berikan sanksi atas beberapa kasus yang di buat oleh mereka, sedangkan pengguna jalan yang ceroboh yang merugikan hasil dari pengulung tak pernah di bahas, restu hanya berucap dari bibirnya, “apakah yang tuhan tunjukkan kepadaku ini.”
Lalu ada seorang anak kecil berucap, “semua yang kita lihat ini belum tentu sesuai dengan apa pada tampilannya, dan kita tidak akan menemukan keadilan itu, semuanya kalah oleh kekuasaan, maka bekerjalah dengan sebebas –bebasmu tetapi jangan menghendaki orang lain untuk sepertimu, tapi jadilah dirimu sendiri, jika kamu benar maka mereka akan mengikutimu suatu saat nanti, ketika dimana mereka tak punyak pegangan lagi, kapanpun, pemikiran memang sebuah kekafiran, ia diharamkan dan di perangi, tetapi bersama lalunya zaman, ia menjadi sebuah aliran bahkan keyakinan dan pembaharuan. Di atasnya kehidupan terus melaju setapak demi stapak menuju muara.”[1] Restu kaget mendengar perkataan anak kecil itu yang sangat bijak.
kemudian hari restu telah sampai pada rumahnya, ia kembali pada kehidupan lalu, iya tak mau lagi ikut campur pada sosialnya, hanya beberapa orang saja, yang sering datang dan berdiskusi dengannya. Tampa menjelek-jelekkan orang lagi tetapi ia memeberikan sebuah konsep, berjalan dan hanya membentuk sebuah golongan tampa bias. Kini semuanya berjalan lancar. Keai yang di anggap tokoh masyarakat tersebut kini kehilangan kepercayaan, melihat anak laki-lakinya menghamili orang. Kemudian pembrontakan masyarakat, mengenai tanah pesanteren, dan pemilik pesantren tersebut menjadi milik keyai Mursyd. Hingga pemilik aslinya tak sedikitpun namanya tercamtungkan dalam kepengurusan yayasan, dan kepemilikan tanah yang dibuat.
*****











UJUNG DAN TEPI
(Sahril_03 Mei 2013)
Kini semuanya telah nampak bias dalam dekapan yang menerpa, kilasan angin yang berhembus di setiap tepi, dan ujung-ujung yang bergoyang melelahkan setiap pikir. Alam-alam riang dan berdendang ketika kedamian dalam sebuah pelosok pulau yang diam dan hanyut. Semua berjalan dalam sesuatu yang kolektif, tak terkeculi restu. Iapun ikut mengalir menikmati alam dalam musim penghujan. Perci’an air hujan yang kini membasahi pikiranan dan menyucikan jiwanya. Ia tetap pada suatu pemikiran yang bias dalam tatapan, tatapan yang kosong tapi bermakna.
Hingga akhirnya ia membuka kembali ruas jalan yang yang berujung dan bertepi, langkah demi langkah, ia telusuri. Tiba-tiba fatima ada di sampingnya, ia tak segang-segang mendekatinya. Ujarnya kepada fatima.
“fatim, sudah lama aku tak melihatmu, kenapa wajahmu kini tertutupi, dan jubahmu begitu besar”. Menatap garis mata fatima karena hanya matanya saja yang bisa terlihat, sekujub tubuhnya telah tertutupi oleh kain.
“ah, kamu res, sudah biasakan seperti ini.” Wajahnya iya palingkan dari tembusan matanya yang polos.
Ujarnya kembali kepada fatima yang tak biasanya memalinkan wajahnya ketika berbicara dengan restu, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang lalu kini telah tuntas dan terbayar lunar, semua hanya menjadi gambaran yang suran dari kertas-kertas yang tak bermakna, entah apakah ada yang akan membuka, atau iya aka suram untuk selamanya. “wah, sudah lama aku tak ketemu denganmu, kini kau telah berubah wahai sahabatku. aku, tak bisa lagi melihat wajahmu wahai fatima, kini kau tertup bagai tirai, bukan hanya mataku yang tak mampu melihat, akan tetapi mata hatikupun tak mampu untuk melihat. Kini kau telah menjadi fatamurgana, dalam mimpipun tak mampu aku membayngankan, karena semua akan terasa hina.”
            Nampaknya fatima, tak menanggapi semuanya iya hanya berlari meninggal restu, dalam tepi, yang tak berujung. Semuanya telah terasa berubah semuanya telah terasa tumbuh dewasa, sungguh membosangkan kedewasaan ini, teman sejati adalah kesepian. Mungkin juga hakikat keberadaan adalah keterasingan. Yang jauh begitu dekat, yang dekat begitu jauh. kemanakah restu akan memulai, yang pastinya semuanya dalam titik nol.
            Jelata malam telah menjauh nampaknya fatima tampa suai, ia meninggalkan daung yang kekeringan, bukan hanya pikiranya yang kosong, ruang hampa kini telah kosong, meski suatu ukuran yang kecil tapi kedalamanya melebih samudra, kini tak ada lagi yang mengisinya. Kupu-kupu tak mampu bertahan di terpa angin laut yang telah berhembus kencang, berikan nada-nada tangisan alam, membuat aktifitas telah terhenti sejenak. Tak terkecuali restu diam, tetapi gerak dalam dirinya selalu melaju lebih kencang dari pada sebelumnya.
            Semakin dalam gerak yang melintang membuat ia tak bersuai dalam keterbatasannya, ia tertunduk, meski nafas masih berhembus, tetapi, semuanya tak mampu lagi untuk dijamak, mungkin ujung akan datang, tetapi sejarah tak berujung, hanya ketertundaan saja, atau tinta yang kehabisan nafas, kini semua terhenti sejenak, atau restu akan pudar hingga akhirnya ia datang kembali, sampai akhirnya semua lukisan telah tergamak dan tergambarkan lagi.
          Javid bertanya-tanya dalam dirinya, ia kembali membuka dalam sosial history tentang bungksan dalam lembaran-lembaran kertas, ia melihat tulisan yag diam dan membuka kembali apa yang tertulis di sebuah kertas kusam, “nakal sekali restu dalam ceritanya ini, terkadang, tapi mungkin ada benarnya juga, manusia harus hidup besosial karena tuhan, bukan bertuhan karena sosial”. ia bertemu dengan desta,
“desta kenapa kamu membiarkan pemikiran restu yang begitu sangat nakal, apa kamu tidak kasihan dengan restu, yang setiap saat berfikir”.
“Bukankah aku telah memberikannya waktu untuk berhenti sejenak, apa dia memberikanmu sebuah pesan.?”
“iya, aku melihatnya, dalam beberapa pesan, dalam dialogku yang kusam.”
“bukankah, yang perlu dikasihani lagi adalah diriku, bukan restu, ia bisa saja memberontak kepadaku, tetapi ia tergantung, letihnya adalah letihku, akan tetapi letihnya bukan berarti letihnya, apa ia ada dalam pembicaraan kita, ia tiada letih, ia tak usah berfikir hanya kita saja yang berfikir tentang dia, apa saat dia memberikanmu pesan apa iya harus berbicara kepadamu, tidak iya hanya membuatmu bingung, sedangkan iya hanya tersenyum saja dalam setiap langkahnya.”
“lalu, kenapa iya harus membrontak pada sosialnya,”
“bukankah sudah jelas wahai javid, bahwa kebanyakan dalam sosial tak menampakkan sikap bijaksana mereka, mereka men-unggulkan kekuasaan mereka, untuk mengendalikan sesuatu, dengan bahasa moral sedangkan mereka sendiri tak bermoral. Mereka tak dapat mengetahui kebenaran, karena mereka dalam kesalahan, hingga akhirnya mereka menganggap sesuatu yang benar adalah apa yang benar itu. Hingga dirinya adalah yang paling benar.”
“wajar saja mereka kurang pendidikan, hingga mereka seperti itu. Aku memang ingin dalam tatanam sosial ini, dalam menyalahka sesuatu harus berfikiran panjang, dan adil dalam berfikir, kemudian adil dalam bertindak.”
Add caption
            Suasa telah diam tak terkecuali restu kini berada dalam alam fikir yang menjadi hidup dalam setiap kertas dalam setiap detik, lewat tusukan malam yang menghembus, angin kini kembali bertiup kencang dua kencana alam yag berguguran, restu melewati lorong-lorong waktu, iya melihat beberapa manusia yang sedang dalam keadaan yang tak seorangpun tahu apa yang mereka lakukan. Mereka melakuakan sebuah aktivitas ritual restu mencoba merainya akan tetapi tak mampu, iya mencoba berteriak tak seorangpun mau mendengarkannya. Dan kini ia telah pudar sebagai kisah
SELESAI




[1] Puisi Amil al-Khuli

No comments:

Post a Comment