UJUNG DIATAS
TEPI
Setiap detik adalah sejarah, sejarah
yang tak bertepi, sejarah yang tak berujung.
Tetapi hanya selembar cerita dalam setiap rentengan waktu.
(Sahril_03 Mei 2013)
“Fatima, aku bingung dengan setiap
lagkah ini.” Sambil menatap mata Fatima
“kenapa
res!?,(ujarnya, sambil menatap wajah restu), mengapa harus bingung?, tulislah
sejarahmu dalam setiap waktu.” Wajah fatima yang pucat dengan suara yang
remang-remang.
“
aku harus menulis apa?, aku melangkah dengan jutaan pikiran yang membias. Aku
tak sadar akan adanya Tuhan. Tuhan telah terlelap tidur saat manusia mulai
menggali lubang dosa.”
“mengapa
kau mengatakan Tuhan tertidur, Tuhan tak pernah tidur, Tuhan selalu mengikuti
setiap langkah dan menganalisis setiap waktu, setiap lubang kecil ia akan
selalu perhatikan”
“tapi
kenapa Tuhan tak pernah ada ketika semua manusia telah lalai, membuat kerusakan
di muka bumi ini. Apakah Tuhan memang sedang tertidur panjang dan tak mau
mengurusi dunia ini.”
“Restu,
hati-hati dengan perkataanmu, Tuhan selalu terlibat dalam setiap kejadian-kejadian
yang ada dibumi ini.”
“bukan
kah setiap kejadian itu hukum alam, aku mulai ragu akan ada yang berkuasa
didunia ini.”
“hati-hati
dengan pikiranmu, nanti kamu kafir.”
“lebih
baik saya kafir dari pada saya menciptakan kebenaran diatas kemunafikan, kenapa
saya mengataka kemunafikan karena manusia mulai menciptakan kebenaran sendiri
tanpa mampu mereka menjelaskannya, bagaimana kebenaran itu sendiri.”
“terserah
kamu lah aku tak mau ikut jalan pikiranmu.”
“masih
banyak yang harus kita bedah tim, kita bukan hanya sekedar menguji diri kita
untuk Tuhan, tapi eksistensi Tuhan juga harus diuji.”
“lewat
apa kau akan mengujinya.”
“
lewat rasionalitas, apakah perkataan yang telah ia wahyukan bisa di uji. Tanpa
mengenal waktu ia tetap sejalan dengan perkembanagan zaman. Bagaimana mungkin
aku harus mengikuti kebenaran yang tak sejalan dengan realitas, dan bagaimana
mungkin prediksi-prediksi Tuhan akan tak sejalan jika memang ia yang
mengendalikan semuanya.”
Terdiam tanpa setetes suara yang
terpancarkan dari bibir-bibir manis sang manusia, dedaunan sepi yang mereka
duduki
tak memberikan isyarat apapun, hanya terdengar suara rintihan angin
melambai-lambai di pepohonan yang rindang, tak bersyair hanya riuh dalam keruh.
Wajah gersang sang kelana mulai melangkah menjauhi tepi setiap sudat yang mulai
mengiringi langkahnya.
*******
Pelita malam menutup cahanya dalam
kegelapan. Sebuah desa yang sepi dan sunyi hanya suara percikan air dari
gelombang yang sedang mengadu kepantai, entah apa yang sedang ia lakukan, entah
mengapa pantai masih bertahan. Malaikat-malaikat seakan tersenyum melihat
manusia yang sedang berfikir tentang sesuatu imajinasi yang baginya tak
absolut. Yang baginya lembah kehancuran mencari sesuatu yang di ciptakan, akan
tetapi mereka mulai mengejar imajinasi itu. Dan mulai menaruh segala-galanya
pada imajinasi itu.
Suara adzan berkumandang, menandakan
waktu isya’ telah tiba. Fatimahh menuju masjid. Langkah yang begitu tertata
rapi, dengan pakaian putih-putih, seolah-olah senyum sang malaikat mengikutinya.
Ia melihat seorang pria duduk di depan rumah menghembuskan helaian rokok.
“ res, gak sholat tah,” berdiri
didepan Restu tak mau diam.
“buat
apa sholat tim, cukuplah buatku mengingat saja, bukankah masih banyak yang
harus aku pikirkan sebelum aku pergi sholat, aku harus memperbaiki moral dulu,
mereka menyembah Tuhan akan tetapi tak bermoral
apakah itu bukan sama saja dengan kemunafikan dari wajah-wajah manusia itu.”
“kamu
salah, res,” denga nada yang pelan
“letak,
kesalahanku dimana tim, coba kamu lihat dilingkungan kita, mereka mengaku
ustatd, tapi mereka tak bisa berprilaku objektif. Mereka membela suatu
kemunafikan, jika ia adalah keluarga mereka, aku kira agama mengajarkan
keadilan, tapi adil dalam sholat saja,” sambil tersimpul ketawa kecil.
“kenapa, kamu menjadi egois seperti
ini kepada Tuhan.”
“bukankan
sejak kecil kita di ajarkan egois, yang lebih tinggi dari kita sok-sok-an
seolah-olah hanya mereka yang mengenal dunia ini. Bukankah sifat egoisme sudah
ada sejak kita kecil. Hidup kebebasan dalam kesendirian. Manusia hanya ingin
bersatu jika ada kepentingan. Dan keadilan ini telah punah. Apakah dengan
sholat kita bisa merubah keadaan di dunia ini. Tanpa mau bertindak.”
“terserah
kamu saja res, manusia hidup hanya untuk mencari ridho Allah SWT.”
“jika
kamu percaya ridho itu, akupun percaya. Tapi banyak jalan. Aku tak bisa
meninggalkan duniaku untuk urusan akhirat jika masih berat hati untuk
meninggalkannya. Tugas kita sebagai khalifah dimana,? Tanggung jawab moral kita
dimana,? apakah di masjid, atau
di sosial.? Aku kira Tuhan telah
mengetahu segala-gala. Tuhan pasti tahu kenapa aku tidak sholat.”
“terserah
kamu dah, aku pergi dulu.”
“iya
sudah nanti kamu telat lagi, keburu iqamah.”
“iya,
aku harap kamu bisa berubah.” Sambil melangkahkan kakinya dan menoleh
kebelakang.
Hari-hari ini Restu merasa resah,
merasa terpuruk dalam keterasingan jiwanya tergoncang. Matanya mulai memerah,
wajahnya pucat, mungkin terlalu banyak berfikir, terbisik dalam benaknya. “
kenapa aku butuh sesuatu yang di luar kemampuanku, yang diluar material. Apakah
Tuhan berbisik kepadaku.”
Badanya
gemetaran ia meneteskan air mata di sela sudut-sudut ruang yang memiliki lebar
4x4. Ia tertunduk, sambil memikirkan realitas yang terjadi, apakah yang di
kejar manusia, manusia hanya sholat saja tetapi mereka lalai dalam mengabdi,
mereka hanya mengejar Tuhan, akan tetapi tak mengejar keridhohan Tuhan,
kemungkinan mereka sholat hanya ingin di puji saja mereka adalah
manusia-manusia yang sholeh. Hingga mereka di anggap paling baik. Apakah agama
islam, agama yang mengajarkan bagaimana
cara mengejar Tuhan saja, aku kira islam ini adalah agama yang humanis,
sosialis, akan tetapi islam ini kapitalis. Islam adalah manifesto-manifesto
politik dari kehidupan manusia. Berbuat atas nama agama. Tetapi apakah mereka
tahu tentang hakekat agama itu. Manusia berpakain suci dan bercahanya. Akan
tetapi hati mereka dalam kegelapan.
Restu
mulai melangkah menuju rumah Fatima, yang tak jauh dari rumahnya. Malam yang
membias, pedagang-pedagang malam mulai menampakkan wajahnya. Jalan semakin
remang dan membias. Restu telah tiba didepan rumah Fatimah.
“assalamu
alaikum................”
“wa’alaikum
salam...... masuk res,”
“wah
lagi ngapain Tim, kanyaknya lagi sibuk ya.”
“
gak ko’. Ni lagi beresihin buku-buku.”
“wah
rajin juga kamu baca buku ya.”
“bukan,
Abi tadi yang baca buku.”
“ohhhh....”
Restu sambil terkesima tanpa melanjutkan perkataannya.
Mereka berdua duduk sambil menulis
sejarah tanpa tepi dan ujung. Hanya akan ada ketertundaan sementara, mata Fatima
melirik kepada Restu, Restu hanya terdiam dan tersimpul malu, mereka saling
melirik tanpa bias kata, hanya suara detak jarum jam. Tiba-tiba seorang lelaki
setengah baya datang.
“ehh,,. Ada Restu, udah lama res,”
“baru, dateng ko ustad,” sambil menundukkan
badan
“akhir-akhir ini aku jarang melihat
kamu di masjid res,” Fatima langsung memotong sebelum Restu menjawab,
“iya
ni Bi, masa katanya dia tak percaya lagi sama Tuhan,”
“wah bahanya pemikiran kamu ini
res,”
“tidak ko’ pak ustad, aku hanya rekarnasi
saja tentang kebenaran.”
“sudah dapat kebenaran.”
“belum yang aku dapatkan hanya
kemunafikan saja.”
“Kalau
bisa perbaiki saja, pola pikirmu, karena kamu takkan mendapatkan kebenaran jika
kamu selalu ragu. Kebenaran itu hanya ada buat orang-orang yang percaya pada
kebenaran.”
“tetapi
pak, ustad, masa aku akan percaya, jika aku melihat tokoh-tokoh masyarakat kita
yang sudah tidak diragukan lagi agamanya. Ingat tidak minggu lalu, ketika kita
sholat, di masjid jami’. Imamnya adalah tokoh tersepuh. Dan yang barisan
dibelakangnya adalah anaknya sendiri. Imamnya melebihkan rakaat, kenapa tidak
ditegur.”
“mungkin
anaknya juga lupa,”
“masak dua-duanya lupa. Aku kira semuanya sudah
tidak berbicara objektif, semuanya di politisi, apa yang mereka lakukan adalah
karena agama mereka adalah agama kemunafikan, mereka berbicara kebenaran, akan
tetapi kebenaran melalui tolak ukur mereka sendiri, tak mau berbicara idealis,
apakah islam mengajarka seperti itu pak ustad.
“kamu
mungkin, yang tak memahami mereka, jangan memfitnah.”
“kita
lihat saja pada realitas pak ustad, coba jika ada diantara keluarga-keluarga
yang bukan termasuk Kerabat tokoh-tokoh masyarakat kita, ketika melakukan
sesuatu semuanya berteriak, atas suatu kezaliman, akan tetapi ketika mereka
bertindak sebebas-bebasnya. Bahkan pesantren kita, yang dimana tokoh yayasannya
dinaungi oleh ustad matrsuki sendiri. Apa yang dia lakukan dia telah membuat
surat kepemilikan tanah, sedangkan yang memiliki tanah sendiri, di hapuskan
namanya dari pendiri pondok pesantren itu, apa maksudnya, Kalau bukan hanya
untuk mencari nama, dia adalah kaum-kaum borjuis, yang punyak modal, dengan
Moral palsu, dan Iman Munafik.”
“jangan sering mengkritisi orang, lidahmu bisa saja
membawa kehancuranmu, hargailah mereka sebagai seseppumu, di mana etikamu”
“apakah
aku harus menjual nilai idealisku, dengan kata etika, aku kira aku akan menjual
etikaku dari pada menjual idealismeku.”
“iya
tapi hati-hati.” Dengan nada yang agak keras
“iya
pak. Ustad terimakasih atas nasehatnya. Salam saya saja kepada mereka, terima
kasihku, mereka telah memperkenalkanku tentang Tuhan, malaikat, dan nabi
kepadaku, lewat syari’at. Tetapi kenapa mereka malah tambah membuatku bingung
akan Tuhan, malaikat-
96
malaikat,
dan nabi.” Dengan suara yang lembut tak
ingin memanaskan susasana.
“kenapa
kamu bingung dengan syari’at itu res, bukan jelas mereka mengajarkanmu
bagaimana sholat, bagaimana berprilaku baik, bagaima membentuk moral.”
“ah,
hanya berteori saja pak, hanya sebagai kata, hegemoni saja, bagaimana kita bisa
berprilaku baik sama mereka. Bagaimana mereka di anggap yang memiliki ilmu
tingkat spritual tinggi. aku berfikir, seharusnya aku bebas untuk berfikir
sendiri, atau berijtihad, coba kita lihat runtuhnya peradaban islam dari
persia, bagi mereka yang terlalu fanatik kepada imam maliki. Sehingga banyak
buku-buku yang mereka bakar.”
“sudahlah
res, kamu jangan terlalu banyak mengkomsumsi pemikiran-pemikiran, malah kamu
akan kafir, kamu akan menjadi korban filsafat.”
“kenapa
pak, wong, produknya saja kita konsumsi, yang penting bagaimana kita
pintar-pintar menyaringnya pak ustad. Manusia ini kok sibuk menyalahkan orang
yang sedikit berfikir rasional malah dikatakan kafir. Padahal aku yakin.
Serasional-rasional orang berfikir maka dia juga akan menemukan titik terakhir
dimana ujung akar itu, yang pastinya tak mampu menembus inti bumi. Begitupun
bagi saya pasti kita akan menemukan titik terakhir yang pada suatu kesimpulan
ada sesuatu yang diluar kemampuannya kita. Yang inti dari semua inti, yang berkuasa
dari semua yang berkuasa.”
“aku
tau kamu paham, tapi kenapa ko’ kamu gak mau menyembah Tuhan.”
“aku
tak mau Tuhanku dijual atas jalan menuju kekuasan pak. Mungkin aku juga ingin
mengubah semunya lewat netralisasinya saja.”
“netralisasi
yang seperti apa yang kamu maksud.”
“aku
ingin merubah, sesuatu dengan kontradiktif, presepsi yang berbeda denga para
kaum munafik itu, sehingga semua manusia bisa berkaca bahwa, orang yang
kelihatan rajin ibadah mereka belum tentu bisa terlibat dalam peradaban, mereka
hanya mementingkan kehidupan akhirat saja,meski aku tahu akhirat mereka adalah
dunia mereka, mereka menjual nama Tuhan untuk kepentingan mereka.”
Nampaknya ustad, yono. Tak mau
memberikan sanggahan dan menentang apa yang Restu katakan,
“jalan
teruslah nak, kamu seolah-olah adalah burung yang keluar dari sangkar, yang
mulai menjelajahi mimpi-mimpi manismu. Tetapi jangan lupa ibadahmu, karena
Tuhan akan memberikanmu jalan, dari niat tulusmu.”
Semuanya
hanya diam nampaknya jam mulai ada dalam waktu-waktu yang mulai sempit untuk
berdialog, mungkin mimpi menunggu untuk berdialog. Restupun mulai jauh
melangkah meninggalkan rumah Fatima, hingga semunya samar-samar.
*****
Tapak
tilas telah meraung dalam dimensi yang menggoresi setiap detak dan ujung
sejarah tanpa tepi. Musafir-musafir hidup telah tersesat dalam belantara
kehidupan semuanya hanya terdiam tanpa tepi, tanpa ujung sejarah yang selalu
berjalan bebas, mungkin dalam imajinas Hegel adalah sejarah yang demokrasi,
mungkin kata karl marx dealektika sejarah, dan kita akan menemukan sebuah
realitas hingga sampai pada dedaksi bahwa kesadaran akan membentuk sebuah
realitas. Eksistensi manusia adalah mencetak sejarah, manusia adalah sejarah,
tetapi apakah manusia selalu berprilaku tidak adil dan sering melakukan
penindasan-penindasan. Hingga semua sejarah berkata lewat darah dan tangisan.
Berdialog dengan bendera-bendara, katanya sih idealisme, tetapi tercampur
kotori oleh lumpur-lumpur politik.
Restu
mulai berdialektika denga alam, melakukan rekarnasi, bagaimana iya akan membuat
suatu perubahan,ia berfikir dirinya sendiri tak punya peran penting dalam
masyarakat, masyarakat dikuasi oleh orang-orang borjuis, yang memiliki modal
keimanan palsu, ia hanya berfikir apakah manusia-manusia disekelilingnya hanya
mau diperintah saja tanpa mau mengkritisinya. Dalam kesendirian ia mulai
membasu muka dari ujung telapak tangannya hingga sampai ujung
kakinya, aku kira aku juga tidak tahu apakah yang ingin ia lakukan.
Sajadah-sajadah
panjagnya mulai ia buka, ia ingin merasakan sesuatu yang diluar kemampuannya,
ia sudah beberapa hari selalu bekerja, dengan dialektika alam. Pikiranya ia
kuras, sampai badanya seolah-olah hanya tengkorak yang dibungkus kulit saja.
Ia
mulai melakukan sebuah pekerjaan, banyak orang mengatakan pekerjaan bertegur
sapa dengan Tuhan menghadap Tuhan, sesekali itu ketika rakaat kedua Restu
meneteskan air matanya, secara perlahan-lahan, ia mulai hidup dipipi kasih,
hanya hidup beberapa waktu saja, ia langsung kehabisan nafas di ujung bibir
yang penuh kemunafikan. Bagitupun manusia menemui sebuah ajal, dimana kematian
ini kita tak mampu meramalkannya. Tua, muda, bahkan yang belum lahir saja,
sudah menemukan ajalnya.
Restu
mulai melakukan sesuatu dimana kemandirian tak tampak lagi, ia berdo’a kepada
sesuatu yang tidak terlihat, akan tetapi sesuatu itu sangat jelas terlihat,
bahkan sangat jelas daripada manusia-manusia disekelilingnya. “ya Allah, kenapa
aku ini, kenapa aku mulai jauh darimu, aku merasa nyaman, ketika aku
menyakinimu. Meski aku di tindas, akan tetapi mengapa orang yang sering
menghadapkan muka kepadamu, tak menampakkan ajaranmu, apakah mereka hanya
beragama saja tetapi tak berTuhan, aku tahu, engkau ya Allah kau mengajarkan
keadilan, engakau mengajarkan agar kami tidak pilih kasih, aku tak mengerti
apakah yang mereka inginkan, apakah tujuan mereka. Jika aku seolah-olah tak
beragaman, tetapi
aku tetap berTuhan kepadamu ya Allah, aku percaya engkau ya Allah, aku percaya
ajaranmu tak seperti mereka, mereka terkadang menjualmu, atas nama ahlaq,
supanya mereka di hormati, itukah ajaranmu, aku rasa tidak, jernihkanlah
pikiran ini ya Allah, aku tahu engkaulah yang memberikan aku pikiran, dan
engkau pula yang mampu menghilangkan pikiranku.”
Restu
tetap merasa sepi, dan badannya jatuh, ia terdiam sejenak dalam kertas
bayangan, ia mulai lesu, ia tak pernah bersuai, sejarahnya telah terhenti di
ujung tinta, ia telah lama tenggelam, mungkin karena ia tak pernah lagi di
bayangkan. Sehingga iapun mulai kehilangan nafas, karena ia hanyalah sebuah
imajinasi, yang di kendalikan dan di atur sampai kapan ia akan hidup dan
terlibat dalam kehidupan. Meski terkadang ia membrontak kepada imajinator
kenapa ia selalu disuruh berfikir, ia capek untuk berfikir, tetapi ia
dikendalikan oleh sesorang yang berbeda dengan dia, yang di luar kemampuannya,
meski ia ingin ketemu, akan tetapi ia tak bisa meninggalkan esensinya, jika ia
memaksakan kehendaknya untuk ketemu sang penulis maka iapun akan tenggelam dan
terhapus dalam sejarah, dan mati.
*****
TEPI YANG BERUJUNG
“ Setan menari-nari bebas, di atas
noda, manusiapun mulai tertawa dan bertepuk tangan diatas panggung Neraka”
(sahril B.S)
Raut-raut muka yang tergambar jelas,
di setiap lembaran yang musnah, dan hangus, setiap kenangan yang berlalu,
adalah hari-hari yang mencari keabadian. keabadian yang tersimpan setiap waktu.
waktu yang sangat berarti, yaitu kesepian.
Perci’an cahaya terbungkus dalam
binar-binar kegelapan, segumpalan tetesan air mata yang menetes dalam setiap
binar kegelapan, isyarat-isyarat manusia lewat tatapan muka yang bembus, tapi
hati masih menggantungkan kekuatan, kekuatan adalah kebenaran.
“jika
aku masih dalam kesepian, dan semuanya telah berlalu, apakah eksistensiku ada
dalam kesepian ini, mungkin saja, akan tetapi ini semua menjadi enggang untuk
aku jalani. Karena aku membutuhkan sesuatu yang tak lain adalah orang yang
harus ada dalam pikiranku.” Pikiran ini menjadi sesuatu yang sangat memukul
bagi restu, dalam setiap kertas kusam yang selalu ingin ia tulisi, dalam setiap
surat yang ingin ia rangkai.
Restu
mulai melangkahkan kaki, kala malam merunjuk dalam kepian, dan kesepian yang
tak satu setanpun tahu kemana ia akan melangkah, semua hanya tergambar lewat
tapak tilas yang tak berarti, tahun-tahun kini telah berlalu, semuanya
telah tergambar jelas dalam raut muka, yang tampak berbinar, nampaknya,
semuanya telah terbayar lunas dalam sejarah masa yang suram, hanya ada tepi
yang selalu terbayang menjadi sebuah bungkusan keabadian dalam diri restu,
yaitu perubahan.
******
Kini semuanya terasa berubah wajah
manusia telah lalai dalam pandangan demokrasi, kritis tak boleh tampak, hanya
ikut mengalir dalam setiap waktu, hingga ke abadian tak nampak lagi. Maka
keabadian dalam setiap ego tak tampak pada manusia, manusia tak mampu
menciptakan sesuatu yang merupakan nilai, bukankah setiap waktu adalah
kemenangan, semuanya takkan berarti jika, tak menciptakan kenangan dalam
keabadian, yaitu kemenangan untuk bebas.
“wahai
saudaraku, apakah kamu lupa, dalam kebersaman kita, aku merasa sendiri dalam
melangkah, meski kau ada bersamku aku merasa sepi.” Menatap wajah javid, denga
raut muka yang sangat mendalami kata-kata itu.
“mengapa,
apakah kau bosan terus berjalan, kini kita bagaikan tumbuhan di setiap tepi,
kita adalah pelayar dalam kolam, yang di perankan.”
“tetapi
apakah peranan kita tak bisa menjadi nahkoda, dalam setiap awak kapal itu,
lihat bagaimana orang lain, bisa mengendalikan semuanya. Nampaknya aku mau
mendengar musik-musik indah yang jauh dari tepi ini"
“kita,
ada di tepi, jauh dari daratan, kita
adalah tumbuhan, yang tumbuh dari setiap tepi itu”
“apakah
akarku tak bisa menjalar sampai kerumah-rumah, aku merasa sepi, aku ingin
bersandar, dari setiap tepi yang aku jumpai. Tepi itu malah membuatku bosan,
tak bisakah aku melangkah ketengah-tengah dimana setiap manusia mulai
menari-nari bersama, tanpa ada sedikitpun orang yang duduk menyendiri,
ketahuilah saudaraku bahwa kesendirian itu sungguh tidak enak.”
“nampaknya,
semuaya tak kau sadari, sudah berapa lama kau dalam kesendirianmu, sudah berapa
lama kau membayangkan semua ini, menjadi satu kesatuan, kehendakmu bukanlah
suatu yang baru, tetapi semua orang berkehendak. Tetapi kebenaran masih kalah dalam
kekuatan, kekuatan itulah yang membawa kemenangan. Kau tak punyak apa-apa untuk
menutupi semuanya, kecuali kesepianmu. Mungkinkah kamu akan mengatakan suatu
kesalahan, sedangkan kamu tak mampu membayangkan semua apa yang benar, apa yang
benar itu adalah sesuatu yang memiliki kekuatan yang tak terbantahkan, maka
kekuatan masih mengalahkan kebenaran.”
“nampaknya
kau masih, menganggap semua kekuatan, kau tak tahu kekuatan yang ada pada, apa
yang belum kita ketahui, kebenaran itu yang mengatur dari kekuatan, kekuatan
yang tak tampak. Kekuatan pada kita adalah sesuatu yang masih relatif.”
“tetapi,
kamu takkan pernah bisa melangkah kecuali kamu tak mau membangun kekuatan itu,
kesepian akan selalu menemanimu, kau akan tetap ada pada ujung.”
“aku
sangat merindukan orang-orang bijak itu, manusia yang bebas dalam keterikatan,
buat apakah kita hidup dalam kehidupan ini, wahai saudaraku, rasanya aku
merindukan bumi kita, aku ingin berdansa dengan alam-alam kita, hingga sampai
saatnya aku ada di ujung dengan sebuah kenangan keabadian. Dan kini kita harus
meninggalkan dunia ini, dan kita mulai menatap luas langit, terus menatap
langit, hingga kita lupa kita menjatuhkan duri dari setiap jalan yang kita
lewati.”
“ingatlah,
kita adalah satu kesatuan, res, kau benar tetapi jangan sampai kau tenggelam
dalam kesepian itu, karena kau hanya memberikan sebuah ilusi pada sebuah
ladang, padahal kau ada ditepi.”
*****
Suara samar-samar menetes dari setiap wajah yang
gersang, mereka hanya merenung dalam setiap kata-kata, dalam akar yang mulai
menjalar menuju pagar. Semuanya di tebang ketika akar-akar itu menjalar, jika
restu mulai berfikir apa yang selama ini mereka pikirkan, semuaya terhenti,
karena semua hanya semu belaka orang-orang bijak, atau sok bijak mereka
memotong lidah yang mulai mencari ke esaan tuhan, mereka memperkenalkan tuhan
dengan kebingungan yang menjerujuti pikiran restu.
“hai
restu, apa yang kau lakukan, tidak kau sadar, semua keritikanmu membuatku, di
musuhi oleh masyarakat, kau mengatakan aku tak bermoral, aku menjual tuhanku
dengan manifesto-manifesto politik, sungguh betapa tajam perkataanmu yang
membawaku pada suatu keterpurukan.”
“tanpa,
mengurangi rasa hormatku, aku tak sedikitpun ingin menjelekkan pajenengan, akan
tetapi, aku hanya berkata apa yang aku pikirkan, jika semua salah, semua orang
akan meninggalkanku, dan tak mau mendengarkanku. Apakah seperti ini orang yang
bijak, datang dan marah tanpa, memikirkan semuanya, dan berdialog lewat kepala
dingin. Aku yakin, tuhan tak mengajarkan kita seperti ini.”
“hei,
kamu tak usah mengguruiku, kau yang harus banyak belajar agama. Etikamu
dimana,”
“aku,
tak punya etika, karena para tokoh yang harus kami ikuti juga mengajarkan etika
penguasa, kami bukanlah budak yang akan selalu membenarkan pajenengan, akan
tetapi, pajenengan membuat kami bingung, akan semua penerapan tentang agama.
Atau mungkin pajenengan terlalu melampoi batas sehingga melupakan kami yang di
bawah.”
“hati-hati
dengan bicaramu.” Tanganya melayang hingga meninggalkan bekas yang memerah pada
muka restu, sunyi menghampiri suasa itu, jejak lelaki tua yang datang
menghampiri restu, kini hilang kembali, semuanya telah sirna.
Restupun
kini hanya terdiam menatap semua itu, “apa yang sudah aku lakukan” ibunya
datang menghampirinya, dan menangis, di hadapan restu.
“apa
yang membuatmu seperti ini nak.” Dengan suara yang lirih
“aku
tak tahu buk, tapi aku tak mau kita direndahkan, kita diatur, mereka bukan
pencipta nilai dalam dunia ini, mereka yang selalu ingin benar, apakah
kebenaran hanya ada buat mereka, mereka memperkenalkan tuhan yang membingungkan
terhadap kita, apakah mereka tak sadar akan semua itu, bahwa mereka telah
menciptakan nilai atas nama tuhan, padahal mereka sendiri melanggar nilai
tuhan. Tidakkah mereka sering membuat ibu menangis, ayah tersiksa, karena
penilaian mereka yang tak objektif, mereka bumkan seolah-olah, tak pernah ada
dalam keadaan. Ketika kita memiliki masalah dengan keluarga mereka, apa yang
seharusnya dilakukan tak pernah mereka lakukan, aku yakin mereka sadar bahwa
keluarganya salah, makanya mereka bumkam. Inikah wajah-wajah orang yang bijak,
aku rasa tidak.”
“biarlah,
nak, orang lain selalu menyakiti kita, yang penting kita ihklas menerimanya,
suatu saat nanti mereka akan berubah.”
“sampai
kapan buk. Mereka akan sadar, sudah cukup semua ini kita lewati, lihat kejayaan
mereka turun temurun, anaknya di ajarkan nilai agama yang nehil, bahkan
semua jalan mereka lalui, bagaimana anaknya bisa lulus dari pondok. Memang
mereka lulusan pondok akan tetapi apakah jiwa mereka adalah pemimpin, kasihan
saya melihat realitas semua itu.”
“Tabahlah
nak menerima semua itu”
Semuanyapun
terdiam tampa suara-suara yang membumkan, akhirnya tak ada sedikitpun kata-kata yang terdengar dan pembrontakan
sejati, kemudian nampaknya masyarakat kembali pada pendirian mereka. Kini
setiap alur waktu restu tercampakkan, di cemooh dan dituduh musuh tuhan.
Restu
tak tahan lagi dengan keadaan ini, iya ingin keluar dari keadaannya, dan ia
ingin membrontak, tak mau lagi terlibat. Hingga seorang temannya fatima kini
hilang, semua tak mau bergaul dengannya kecuali javid. Iya adalah dinamit yang
bisa menghancurkan keimanan seseorang.
Restu
kemudian pamitan kepada ibunya, untuk berkelana, “ibu, aku ingin pergi dan
mencari ketenangan, nampaknya alam ini tak bersahabat denganku.”
“nak,
dimanapun kau berada, kau tetap akan di uji, kau tetap akan terasingkan jika
kau tak mau mengikuti pola hidup mereka, dan tak mau di atur.”
“aku
tak mau berbicara itu lagi bu, aku pergi, mencari ketenangan jiwa dan menyendiri
disetiap waktu, hingga aku siap, menjadi seorang budak.”
Langkah
kaki restu kini mengiringi deraian tangisan ibu, setiap langkah hanya do’a-do’a yang terdengar
dari ibunya, “semoga kau mendapatkan cahaya itu anakku” setiap jalan yang ia
lewati orang keluar dan melihat restu, mereka berbisik, nampaknya desa kita
akan aman dengan tidak adanya restu, ada yang tersenyum melihat perjalanan
restu. Restupun semakin jauh melangkah hingga bayangan seorang anak kini hilang
jatuh bersama air mata seorang ibu. “nak aku, akan selalu berharap kau datang
dengan cahayamu”.
*****
Berlalunya waktu yang semakin
berlalu tak bisa di hentikan, restu kini berjalan terus, ia bertemu dengan
seorang perempuan yang menangis di ujung jalan. “wahai saudariku, mengapa kau menangis.
Dan sendiri dijalan ini.”
“aku,
kabur dari penjara-penjara kezinaan, aku muak dengan kehidupan ini. Aku
hanyalah sebuah barang, yang bisa saja di beli oleh siapapun, perutku setiap
malam teriris, aku merasa sedih, aku ingin ada yang membelaiku, karena ingin
menjagaku, aku ingin menikmati, kenikmatan itu di rerumputan yang berbau surga,
bukan di dalam kebohongan yang mengiris hati dalam kezinaan.”
“mengapa,
mencari jalan untuk mencari kesepian, kau meninggalkan kelompokmu. Bangunlah
dari mimpi burukmu, tapi jangan tinggalkan hidupmu.”
“siapa,
yang akan menerimaku, dengan keadaanku seperti ini. Aku kotor, aku hina.”
“kau,
sama saja sama mereka, di jalan-jalan yang rias dan bebas, mereka terkadang
melakukan apa yang kamu lakukan, bukankah mereka menjualnya dengan cinta.
Itupun cinta yang bisa di beli dengan harga yang lebih murah. Kau masih lebih
baik dari pada mereka wahai saudariku, kau masih mengakui dirimu. Kau masih
bisa berkata jujur kepada orang lain, sedangkan mereka menutupinya. Mereka hidup
dalam kebohongan, tuhan akan menunjukkanmu jalan. Taubatlah wahai saudariku,
jika kau merasa dirimu salah.”
“adakah
taubat bagi orang yang seperti diriku ini, sudah lama menata kehidupan dalam
kegelapan, apakah dosanya bisa di hapuskan dengan amal-amal fardhu saja dan shadaqah ataukah dia harus
melaksanakan ibadah haji untuk menghapuskan dosa besar yang pernah aku perbuat
ini, dan bolehkah saya menikah dan apakah haram hukumnya saya menutupi,
kejadian masa laluku kepada suamiku kelak, dan suatu saat kelak ketika saya
hidup bersama suami saya dengan kondisi seperti itu hidup dalam kepian yang
selalu membayangi, apakah itu tidak termasuk membohongi pasangan.”
“wanita,
yang telah melakukan dosa yang sangat besar. Dia telah melanggar keharaman itu
yang tuhan tetapkan, dan keharaman (fahisah, perbuatan hina/buruk). Maka wanita
itu hendaknya bertaya kepada dirinya sendiri. Bagaimana kalau seandainya tuhan
mencabut nyawanya sementara dia dalam keadaan
seperti ini, karenanya wajib baginya
untuk bertaubat kepada tuhan dengan taubatan nasuha (taubatan yang
bersungguh-sungguh), dia juga harus bertekad untuk tidak mengulangi lagi dosa
besar semacam ini, kemudian dia harus
memperbanyak istigfar dan bershadaqah serta terus menjaga ibadah sholat dan
do’a. Semoga dengan semua itu allah menerima taubatanmu. Dan satu hal yang
perlu dicatat dia wajib untuk menutupi aib dirinya tersebut dan tidak
memberitahukan masa kelamnya kepada seseorang, semoga allah menutupi aibnya.”
“terima
kasih wahai saudaraku, kau telah memberiku motifasi, tetapi bagaimanapun aku
telah tidak berlaku adil terhadap suamiku kelak. Jika
berpegangan tangan, pandangan mesra, pelukan,ciuman, dan bahkan lebih dari itu
sudah saya lakukan dalam kehidupanku. Lalu apa
yg tersisa untuk suami kelak.? tiada kebanggaan yg pantas aku berikan pada
pasanganku kelak selain kesucian jasadku. Sedangkan aku terlanjur berbuat dosa.
Betapa aku berlaku tidak adil pada jodohku walaupun dia mau menerima aku apa
adanya. Bagaimana Aku akan menyerahkan diri
didepannya dengan aib dan dosa-dosaku sementara pasanganku begitu sangat
mencintaiku,,, padahal diriku penuh dengan dosa sebelum menikah denganya, dan
kalaupun aku tutupi itu demi pernikahanku, tak sanggup rasanya hati ini
membayangkan itu, ketika pasanganku tersenyum gembira di malam itu sementara
aku hanya mendekap menyesali siapa diriku, duh
betapa tak adil baginya,,,.”
“taubatlah,
insyaallah allah akan memberikanmu yang terbaik.”
Restupun
berjalan meninggalkan sosok seorang wanita itu dan ia selalu melangkahkan kaki
tampa, setetes demi setetes, selalu terbayang dalam benaknya, tentang tamparan
yang sempat ada di mukanya. Dalam perjalanan ia bertemu seorang kakek tua,
“wahai anakku, mau kemanakah kau, sepertinya kau tak punya tujuan.”
“aku
sedang mencari, sesuatu yang tak pernah dicari.”
“dari
mana kamu akan menemukan itu.”
“dari
keyakinanku, aku pasti menyadarinya saat aku merasakannya.”
“tak akan ada sesuatu yang akan engkau
temui, dan takkan ada kebenaran yang akan engkau selami, selama ini adalah
sesuatu yang semu.”
“berarti tersmasuk engkau adalah sesuatu
yang semu, maka aku harus meninggalkanmu, karena sia-sialah aku dan waktuku,
jikalau aku bertemu denganmu.”
Restu melanjutkan perjalanannya, dari
barisan pepohon dan rumah-rumah yang memiliki pola pemukiman berjauhan, tak ada
sedikitpun yang menjumpainya. Yang ia temui adalah seekor semut yang sedang
membawa belalang, dengan pola kerjasama yang teratur, iya sangat kehausan, iya
melihat sumua kemudian
mulai mendekati sumur itu, semakin dekat kesumur itu, iya melihat
ternyata sumur itu kosong. Tampa sedikitpun airnya.
Restu melanjutkan perjalananya, iya
melihat suatu bangunan yang megah, rumah yang berhiaskan permata dan emas,
tetapi tak ada sedikitpun penghuninya.
Nampaknya pintunya tak dikunci dan pintunya dibiarkan terbuka lebar
begitu saja, ia melihat isi rumah itu banyak barang-barang yang berharga. Iya
heran dengan rumah itu, aneh sekali rumah yang begitu megah, dan penuh
barang-barang yang berharga, tak ada sedikitpun penghuninya, kemanakah mereka.
tak lama kemudian datang seorang lelaki
setengah baya, menghampirinya.
“ada tamu, ada keperluan apa mas.”
“tidak apa-apa pak, saya adalah seorang
musafir, yang sedang melakukan perjalana, dan saya lagi mencari tempat
perteduhan, dan saya haus.”
“kalau seperti itu, silahkan masuk.”
Restu terkejut ketika didalam rumah itu,
iya melihat beberapa meja, makan yang penuh dengan makanan, di meja satu ada
makanan yang penuh dengan daging babi dan minuma-minuman yang memabukkan, di
meja dua yang penuh dengan makanan ayam dan bayak kurma, bahkan minumannyapun
air zam-zam. Iya bertanya kepada pemilik rumah itu , kenapa semuanya di
bedakan-bedakan.
“didunia ini bukan hanya ada satu agama,
maka bukan Cuma kita yang hidup, maka akan aku terima sebgai tamu siapapun yang
datang kerumahku, ketika ia resmi menjadi seorang tamu, bukan perampok yang mau
merampok rumahku.”
“kenapa tadi rumahnya tidak dikunci,
padahal didalamnya banyak sekali sesuatu yang berhaga.”
“adakah, yang lebih berharga di dunia
ini, selain saling memberi dan mengenal satu sama lain. Adakah yang lebih
berharga selain dari keimanan kita.”
Akalnya
tak mampu memahami, iya melahap begitu saja makanan yang tersedia di meja yang
penuh dengan makanan ayam dan buah kurma. Selesai ia makan ia melanjutkan
perjalanannya, dalam suatu perjalan ia bertemu dengan seorang yang berbadan
kekar, iya mengambil jalan lain, karena jalan itu di penuhi oleh
pereman-pereman.
Tapi
ia terkejut melihat, tingkah laku seorang pereman itu betapa ia ramah,
mengantarkan nenek tua menyebrang jalan. Sesekali ada seorang pemulung yang
sedang membawa sampah-sampah yang ia kumpulkan, para pereman itu membantu
mereka ketika kesulitan, tetapi di suatu sudut jalan, terjadi sebuah hal yang
mengebohkan, mobil mewah berjalan menuju kakek tua itu dan menabrak beberapa
sampah yang sudah di tata rapi oleh kakek tua, para preman itu menghubungi
teman-temanya yang ada di ujung jalan, dan menyetop mobil yang lajunya kencang,
dengan menaburkan beberapa paku di jalan. Terhentinya mobil itu di jalan.
Mereka mendekati mobil itu
dan keluar sosok seorang yang berjenggot panjang seperti seorang yang ada di
tanah suci, tetapi tak banyak omong, mereka langsung memukul orang tersebut,
hingga luka, dan mengambil beberapa barang yang berharga dari orang tersebut,
akan tetapi datang beberapa orang yang atas namakan jihat, mereka menuntuk agar
setiap anak jalanan di berikan sanksi atas beberapa kasus yang di buat oleh
mereka, sedangkan pengguna jalan yang ceroboh yang merugikan hasil dari
pengulung tak pernah di bahas, restu hanya berucap dari bibirnya, “apakah yang
tuhan tunjukkan kepadaku ini.”
Lalu
ada seorang anak kecil berucap, “semua yang kita lihat ini belum tentu sesuai
dengan apa pada tampilannya, dan kita tidak akan menemukan keadilan itu,
semuanya kalah oleh kekuasaan, maka bekerjalah dengan sebebas –bebasmu tetapi
jangan menghendaki orang lain untuk sepertimu, tapi jadilah dirimu sendiri,
jika kamu benar maka mereka akan mengikutimu suatu saat nanti, ketika dimana
mereka tak punyak pegangan lagi, kapanpun,
pemikiran memang sebuah kekafiran, ia diharamkan dan di perangi, tetapi bersama
lalunya zaman, ia menjadi sebuah aliran bahkan keyakinan dan pembaharuan. Di
atasnya kehidupan terus melaju setapak demi stapak menuju muara.”[1]
Restu kaget mendengar perkataan anak kecil itu yang sangat bijak.
kemudian
hari restu telah sampai pada rumahnya, ia kembali pada kehidupan lalu, iya tak
mau lagi ikut campur pada sosialnya, hanya beberapa orang saja, yang sering
datang dan berdiskusi dengannya. Tampa menjelek-jelekkan orang lagi
tetapi ia memeberikan sebuah konsep, berjalan dan hanya membentuk sebuah
golongan tampa bias. Kini semuanya berjalan lancar. Keai yang di anggap tokoh
masyarakat tersebut kini kehilangan kepercayaan, melihat anak laki-lakinya
menghamili orang. Kemudian pembrontakan masyarakat, mengenai tanah pesanteren,
dan pemilik pesantren tersebut menjadi milik keyai Mursyd. Hingga pemilik
aslinya tak sedikitpun namanya tercamtungkan dalam kepengurusan yayasan, dan
kepemilikan tanah yang dibuat.
*****
UJUNG DAN TEPI
(Sahril_03 Mei 2013)
Kini semuanya
telah nampak bias dalam dekapan yang menerpa, kilasan angin yang berhembus di
setiap tepi, dan ujung-ujung yang bergoyang melelahkan setiap pikir. Alam-alam
riang dan berdendang ketika kedamian dalam sebuah pelosok pulau yang diam dan
hanyut. Semua berjalan dalam sesuatu yang kolektif, tak terkeculi restu. Iapun
ikut mengalir menikmati alam dalam musim penghujan. Perci’an air hujan yang
kini membasahi pikiranan dan menyucikan jiwanya. Ia tetap pada suatu pemikiran
yang bias dalam tatapan, tatapan yang kosong tapi bermakna.
Hingga akhirnya
ia membuka kembali ruas jalan yang yang berujung dan bertepi, langkah demi
langkah, ia telusuri. Tiba-tiba fatima ada di sampingnya, ia tak segang-segang
mendekatinya. Ujarnya kepada fatima.
“fatim, sudah
lama aku tak melihatmu, kenapa wajahmu kini tertutupi, dan jubahmu begitu
besar”. Menatap garis mata fatima karena hanya matanya saja yang bisa terlihat,
sekujub tubuhnya telah tertutupi oleh kain.
“ah, kamu res,
sudah biasakan seperti ini.” Wajahnya iya palingkan dari tembusan matanya yang
polos.
Ujarnya kembali
kepada fatima yang tak biasanya memalinkan wajahnya ketika berbicara dengan
restu, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang lalu kini telah tuntas dan terbayar
lunar, semua hanya menjadi gambaran yang suran dari kertas-kertas yang tak
bermakna, entah apakah ada yang akan membuka, atau iya aka suram untuk
selamanya. “wah, sudah lama aku tak ketemu denganmu, kini
kau telah berubah wahai sahabatku. aku, tak bisa lagi melihat wajahmu wahai
fatima, kini kau tertup bagai tirai, bukan hanya mataku yang tak mampu melihat,
akan tetapi mata hatikupun tak mampu untuk melihat. Kini kau telah menjadi
fatamurgana, dalam mimpipun tak mampu aku membayngankan, karena semua akan
terasa hina.”
Nampaknya
fatima, tak menanggapi semuanya iya hanya berlari meninggal restu, dalam tepi,
yang tak berujung. Semuanya telah terasa berubah semuanya telah terasa tumbuh
dewasa, sungguh membosangkan kedewasaan ini, teman sejati adalah kesepian.
Mungkin juga hakikat keberadaan adalah keterasingan. Yang jauh begitu dekat,
yang dekat begitu jauh. kemanakah restu akan memulai, yang pastinya semuanya
dalam titik nol.
Jelata
malam telah menjauh nampaknya fatima tampa suai, ia meninggalkan daung yang
kekeringan, bukan hanya pikiranya yang kosong, ruang hampa kini telah kosong,
meski suatu ukuran yang kecil tapi kedalamanya melebih samudra, kini tak ada
lagi yang mengisinya. Kupu-kupu tak mampu bertahan di terpa angin laut yang
telah berhembus kencang, berikan nada-nada tangisan alam, membuat aktifitas
telah terhenti sejenak. Tak terkecuali restu diam, tetapi gerak dalam dirinya
selalu melaju lebih kencang dari pada sebelumnya.
Semakin
dalam gerak yang melintang membuat ia tak bersuai dalam keterbatasannya, ia
tertunduk, meski nafas masih berhembus, tetapi, semuanya tak mampu lagi untuk
dijamak, mungkin ujung akan datang, tetapi sejarah tak berujung, hanya
ketertundaan saja, atau tinta yang kehabisan nafas, kini semua terhenti
sejenak, atau restu akan pudar hingga akhirnya ia datang kembali, sampai
akhirnya semua lukisan telah tergamak dan tergambarkan lagi.
Javid
bertanya-tanya dalam dirinya, ia kembali membuka dalam sosial history tentang
bungksan dalam lembaran-lembaran kertas, ia melihat tulisan yag diam dan
membuka kembali apa yang tertulis di sebuah kertas kusam, “nakal sekali restu
dalam ceritanya ini, terkadang, tapi mungkin ada benarnya juga, manusia harus
hidup besosial karena tuhan, bukan bertuhan karena sosial”. ia bertemu dengan
desta,
“desta kenapa
kamu membiarkan pemikiran restu yang begitu sangat nakal, apa kamu tidak
kasihan dengan restu, yang setiap saat berfikir”.
“Bukankah aku
telah memberikannya waktu untuk berhenti sejenak, apa dia memberikanmu sebuah
pesan.?”
“iya, aku
melihatnya, dalam beberapa pesan, dalam dialogku yang kusam.”
“bukankah, yang
perlu dikasihani lagi adalah diriku, bukan restu, ia bisa saja memberontak
kepadaku, tetapi ia tergantung, letihnya adalah letihku, akan tetapi letihnya
bukan berarti letihnya, apa ia ada dalam pembicaraan kita, ia tiada letih, ia
tak usah berfikir hanya kita saja yang berfikir tentang dia, apa saat dia
memberikanmu pesan apa iya harus berbicara kepadamu, tidak iya hanya membuatmu
bingung, sedangkan iya hanya tersenyum saja dalam setiap langkahnya.”
“lalu, kenapa
iya harus membrontak pada sosialnya,”
“bukankah sudah
jelas wahai javid, bahwa kebanyakan dalam sosial tak menampakkan sikap
bijaksana mereka, mereka men-unggulkan kekuasaan mereka, untuk mengendalikan
sesuatu, dengan bahasa moral sedangkan mereka sendiri tak bermoral. Mereka tak
dapat mengetahui kebenaran, karena mereka dalam kesalahan, hingga akhirnya
mereka menganggap sesuatu yang benar adalah apa yang benar itu. Hingga dirinya
adalah yang paling benar.”
“wajar saja
mereka kurang pendidikan, hingga mereka seperti itu. Aku memang ingin dalam
tatanam sosial ini, dalam menyalahka sesuatu harus berfikiran panjang, dan adil
dalam berfikir, kemudian adil dalam bertindak.”
![]() |
| Add caption |
Suasa
telah diam tak terkecuali restu kini berada dalam alam fikir yang menjadi hidup
dalam setiap kertas dalam setiap detik, lewat tusukan malam yang menghembus,
angin kini kembali bertiup kencang dua kencana alam yag berguguran, restu
melewati lorong-lorong waktu, iya melihat beberapa manusia yang sedang dalam
keadaan yang tak seorangpun tahu apa yang mereka lakukan. Mereka melakuakan
sebuah aktivitas ritual restu mencoba merainya akan tetapi tak mampu, iya
mencoba berteriak tak seorangpun mau mendengarkannya. Dan kini ia telah pudar
sebagai kisah
SELESAI

No comments:
Post a Comment