Setiap
orang berhak memimpikan apapun yang ingin dicapainya. Di samping melakukan aktivitas
akademik, berbicara tentang kebebasan dan pembebasan (revolusi) untuk menciptakan kreasi-kreasi
baru atas dasar kebenaran yang mulai terusik.
Bagi
para pemuda Indonesia, kemerdekaan memiliki arti lebih luas daripada sebatas
bebas dari tindasan penjajah. Kemerdekaan merupakan
pembaharuan atas segala nilai hidup, guna mewujudkan segala cita-cita yang
mereka anggap tepat untuk mengisi “wadah kemerdekaan”. Kebebasan untuk mempertanyakan segala nilai-nilai lama demi
terwujudnya nilai-nilai baru dalam
masyarakat yang memberikan
harapan lebih baik atas nilai – nilai sebelumnya
.
.
Hari-hari ini adalah
saat-saat genting bagi para aktivis, para kreator
yang gelisah akan sebuah nilai lama yang menindas. Disamping kecaman yang mengusik kebebasan, mereka juga disuruh menghafalkan
lagu-lagu kebenaran dalam perspektif para penguasa. Lalau apa itu kebenaran? Bagaimana ia bisa dianggap benar
jika hanya milik para penguasa?. Bagaimana kebenaran bisa tercapai bila
kebebasan mempertanyakan sesuatu dikecam? Berat
juga bagi aktivis, setiap
hari mendengarkan dan dipaksa membenarkan khotbah-khotbah para penguasa tentang kebenaran. Bagi para pencinta kebijaksanaan, hal ini tentu merupakan
suatu seruan yang meninabobokan.
Maka berfikir dan bertindak bagi
mereka berarti membiarkan diri mereka untuk dimusuhi oleh para penguasa. Karena terhenti pada kebenaran yang masih absurd berarti mencederai
nilai-nilai intelektualitas mereka.
Akhir-akhir
ini, para mahasiswa dituduh mengusik kedamaian, dihujat habis-habisan, dan ruang gerak mereka dibatasi. Namun
apapun bentuk pelarangan terhadap kebebasan mereka,
Sjahrir menyatakan bahwa “soal
perjuangan mengenai kehidupan dan nasib rakyat kita yang tidak dapat dan tidak
boleh diperlakukan sebagai soal sendiri, soal menunjukkan jalan pada rakyat semata-mata
soal perhitungan dan bukan soal kehendak diri kita sendiri”. Maka atas dasar itu perjuangan harus terus dilakukan.
Maka
bagi para intelegensia
muda, sudah saatnya bergerak atas apa yang harus diteriakkan, bukan tertidur oleh nyanyian-nyanyian yang setiap hari didendangkan oleh
para penguasa. Perjuangan dari diri sendiri dan berakhir pada diri orang
lain. Karena menciptakan perubahan bukan atas kepentingan diri sendiri, akan tetapi demi nasib dan kehidupan rakyat.
Mahasiswa harus tetap mempertahankan idealismenya, berteriak atas dasar semangat mendobrak sistem yang menindas. Tidak peduli para penguasa menyukainya atau tidak. Soe hok gie berkata “siapapun bahkan guru
yang tak tahan kritik
harus dibuang kekeranjang sampah”. []
No comments:
Post a Comment