Tuesday, March 18, 2014

PERJUANGAN PARA PENGUKIR KEBENARAN


Setiap orang berhak memimpikan apapun yang ingin dicapainya. Di samping melakukan aktivitas akademik, berbicara tentang kebebasan dan pembebasan (revolusi) untuk menciptakan kreasi-kreasi baru atas dasar kebenaran yang mulai terusik.
Bagi para pemuda Indonesia, kemerdekaan memiliki arti lebih luas daripada sebatas bebas dari tindasan penjajah. Kemerdekaan merupakan pembaharuan atas segala nilai hidup, guna mewujudkan segala cita-cita yang mereka anggap tepat untuk mengisi “wadah kemerdekaan”. Kebebasan untuk mempertanyakan segala nilai-nilai lama demi terwujudnya nilai-nilai baru dalam masyarakat yang memberikan harapan lebih baik atas nilai – nilai sebelumnya
.
 Hari-hari ini adalah saat-saat genting bagi para aktivis, para kreator yang gelisah akan sebuah nilai lama yang menindas. Disamping kecaman yang mengusik kebebasan, mereka juga disuruh menghafalkan lagu-lagu kebenaran dalam perspektif para penguasa. Lalau apa itu kebenaran? Bagaimana ia bisa dianggap benar jika hanya milik para penguasa?. Bagaimana kebenaran bisa tercapai bila kebebasan mempertanyakan sesuatu dikecam? Berat juga bagi aktivis, setiap hari mendengarkan dan dipaksa membenarkan khotbah-khotbah para penguasa tentang kebenaran. Bagi para pencinta kebijaksanaan, hal ini tentu merupakan suatu seruan yang meninabobokan.
Maka berfikir dan bertindak bagi mereka berarti membiarkan diri mereka untuk dimusuhi oleh para penguasa. Karena terhenti pada kebenaran yang masih absurd berarti mencederai nilai-nilai intelektualitas mereka.
Akhir-akhir ini, para mahasiswa dituduh mengusik kedamaian, dihujat habis-habisan, dan ruang gerak mereka dibatasi. Namun apapun bentuk pelarangan terhadap kebebasan mereka, Sjahrir menyatakan bahwa “soal perjuangan mengenai kehidupan dan nasib rakyat kita yang tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai soal sendiri, soal menunjukkan jalan pada rakyat semata-mata soal perhitungan dan bukan soal kehendak diri kita sendiri”. Maka atas dasar itu perjuangan harus terus dilakukan.
Maka bagi para intelegensia muda, sudah saatnya bergerak atas apa yang harus diteriakkan, bukan tertidur oleh nyanyian-nyanyian yang setiap hari didendangkan oleh para penguasa. Perjuangan dari diri sendiri dan berakhir pada diri orang lain. Karena menciptakan perubahan bukan atas kepentingan diri sendiri, akan tetapi demi nasib dan kehidupan rakyat. Mahasiswa harus tetap mempertahankan idealismenya, berteriak atas dasar semangat mendobrak sistem yang menindas. Tidak peduli para penguasa menyukainya atau tidak. Soe hok gie berkata “siapapun bahkan guru yang tak tahan kritik harus dibuang kekeranjang sampah”. []

No comments:

Post a Comment