Tuesday, March 18, 2014

FILSAFAT ILMU

TUGAS MAKALAH "FILSAFAT ILMU"

BAB II
Pembahasan
2.1 Pengetahuan Sains
     Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang menggunakan akal rasional dan diikuti oleh emperis. Atau disebut juga ilmu yang ilmiah. Yang pernah dialami entah itu pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.
     Tiapa-tiap pengetahuan pengetahuan memiliki 3 kompeonen yang merupakan penyangga dari ilmu pengetahuan tersebut. Diantaranya yaitu ontologi, yang akan mejelaskan pertanyaan apa. Epistemologi akan menjelaskan pertanyaan bagaiman[1]. Dan aksiologi akan menjelaskan pertanyaan untuk apa. Contoh; apa, HP. Bagaima, HP memiliki kesing layar dan spiker dll. Untuk apa, HP digunakan untuk alat komonikasi mesikupun kini juga hape telah digunakan berbagai macam kebutuhan,
a. ontologi  Sains
v  Hakikat sains
     ontologi dari sains, berarti apakah itu sains. Sains disini untuk menjelaskan sudah sempat saya singgung diatas bahawa sains itu adalah ilmu rasional emperis secara hakikat.
     Secara hakekat saya akan memberikan sebuah contoh sains. Ketika dulu saya telah belajar di SMA saya melihat sebuah gambar dari buku mata pelajaran biologi. Ada 2 tumbuhan yang jenisnya sama tetapi yang satunya subur dan yang satunya tidak subur, kemuadian saya berfikir mengapa demikian.?
     Saya punyak anggapan bahwa pohon yang satu diberikan perlakuan yang berbeda. Pohon A diberikan perlakuan dengan ditempatkan disinar matahari dan diberi air, sedangkan pohon B didak diberi air dan ditempatkan diruang yang gelapa.dengan demikian saya tarik kesimpulan bahwa pohon B tidak tumbuh subur karena tidak mendapatkan air dan sinar matahri.
     Ini rasional, karena tumbuhan memerlukan air dan sinar matahari untuk melakukan fotosisntesis. Oleh sebab pohon A tumbuh dengan subur karena dia melakukan fotosintesis untuk membuat makanan sendiri. Sedangkan pohon B tidak subur karena tidak melakukaan fotosintesis. Tetapi hipotesa saya ini belum diuji kebenarannya karena hanya merupakan dugaan.
     Untuk melakukan suatu emperis maka saya menguji hipotesa. Dengan metode ilmiah. Saya mengambil 2 tanaman yang sama yang tetapi diberikan perlakuan yang berbeda. Pot A diberi air dan disimpan diruangan bebas dan pot B tidak diberi air dan disimpan didalam lemari. Maka hasilnya adalah pot A tumbuh subur dan pot B tidak tumbuh. Dan saya ulang sampai berkali-kali hasilnya tetap sama. Maka hipotesa saya menghasilkan teori. Bahwa “tumbuhan membutuhkan air dan sinar matahari untuk melakukan fotosintetis.” Dan teori ini bisa disebut teori ilmiah.
·         Sturuktur Sains
     dalam garis besar sains dapat dibagi menjadi dua yaitu sains alam, dan sains sosial.
·         Sains kealaman
Ø  Astronomi
Ø  Fisika: mekanika, bunyi, cahaya, dan optik, fisika nuklir;
Ø  Kimia: kimia organik, kimia teknik;
Ø  Ilmu bumi: paleotologi, ekologi, geofisika, geokimia, minerologi,geografi;
Ø  Ilmu hayat:biofisika, botani, zoologi;
·         Sains Sosial
Ø  Sosiologi: sosiologi komonikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan;
Ø  Antropologi: antropologi budaya, antropologi ekonomi, antropologi politik;
Ø  Psikologi: psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal;
Ø  Ekonomi: ekonomomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan;
Ø  Politik: politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional;
            Agar sekaligus tampak lengkap, berikut ditambahkan Humaniora.
·         Humaniora[2]
Ø  Seni: seni abstrak, seni grafik, seni pahat, seni tari;
Ø  Hukum: hukum pidana, hukum tata usaha negara, hukum adat (mungkin dapat dimasukkan kesains sosial);
Ø  Filsafat: logika, ethika, estetika;
Ø  Bahasa, sastra
Ø  Agama
Ø  Sejarah (mungkin dimasukkan kesains sosial)
            b. epistemologi Sains
                        pada bagaian epistemologi sains disini berbicara tentang titik tolak ukur sains         apakah cara memperoleh ilmu sains tersebut benar atau tidaknya dengan melakukan       metode ilmia dengan metode rasional dan emperis. Dapat ditinjau dari:
·         Objek Pengetahuan Sains
     Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang emperis. Jujun S. Suriasumatri (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer,1994:105) menyatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia.[3] Objek kajian sains haruslah emperis dan rasional.
·         Cara memproleh pengetahuan Sains
     Pengetahuan manusia sejak dahulu sudah mulai berkembang sejarahnya bukan hanya diyunani saja akan tetapi sejarah. Dan para pakar ilmuan setuju akan hal itu karena sebelum pemikiran Thales secara praktis. Tetapi ilmu yang pertama kali yaitu ilmu filsafat.
     Karena ketidak puasan dan sains(ilmu) ingin hidup mandiri maka mucullah ilmu pengetahuan sekitar paska pra modrn. Perkembangan sains didorong oleh paham humanisme.[4] Dan tetap ilmu sains mapu diuji kebenarannya tidak terlepas dari rasional-emperis.
·         Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains
     Ilmu banyak berdasarkan teori-teori. Jika kita membaca ilmu(sains) maka yang kita baca adalah teori. Contoh ketika kita membaca ilmu geografi, maka yang tertulis didalamnya adalah teori-teori ilmu geografi. Maka dari itu jika kita akan mengukur kebenaran pengetahaun ilmu (sains) maka seharusnya kita mengatakan Ukuran Kebenaran teori-teori Sains.
     Hipotetis (dalam Sains) pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti emperis bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesa itu salah, Hipotesa benar bila logis.[5]

            c. Aksiologi Sains
                        jika berbicara tentang keguanaan Sains maka yang harus ditekakan adalah kegunaan teori atau pengetahuan ilmiah. Secara umum teori artinya pendapat yang        beraralasan.[6] Maka yang perlu dipertanyakan disini adalah untuk apa teori tersebut.            apa kegunaannya. Kegunaan ialah:
·         Teori Sebagai Alat Ekspalnsi
                        sain sampai saat ini merupakan sebuah eksplanas kenyataan. Menurut T. Jacob        (Manusia, Ilmu dan Teknologi, 1993: 7-8) sains merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainya dalam memahami          masa lampau, sekarang, serta mengubag masa depan.
·         Teori sebagai Alat Peramal
     Ketika membuat sebuah esprimen maka tak kala terlebih dahulu kita akan menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya. Atau faktor-faktor yang menyebabkan suatu kejadian tersebut. contoh; tentang iklim para pakar ilmuan sebelum terjadinya hujan maka mereka terlebih dahulu mengetahui. Karena belajar pada faktor-faktor dan keadaan sebelum terjadinya hujan.
·         Teori sebagai alat pengontrol
Eksprimrin selain sebagai ilmu untuk meramal. Maka juga termasuk ilmu kontrol.
2.2 Pengetahuan Filsafat
a. Ontologi Filsafat
     Filsafat jika ditinjau dari segi bahasa adalah philoshophy dari 2 bahasa jamak yaitu “philo” yang artinya bijak seadangkan “sophy” yang artinya cinta. Berarti filsafat adalah mencintai suatu kebijaksanaan.(mencintai ilmu pengetahuan).
     Secara umum filsafat adalah pengetahuan tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atau berfikir rasional-logis, mendalam dan bebas (tidak trikat dengan tradisi, dogma agama) untuk memproleh kebenaran.[7]
b. Epistemologi Filsafat
     epistemologi filsafat adalah mencari suatu kebenaran.tampa harus menggunakan  akal rasional tampa emperis. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan hakikat ilmu dan ilmu sebagai proses yang merupakan pemikiran yang sistematis dan metodis demi meraih kebenaran yang terdapat dalam suatu ilmu.[8]
     Epistemologi filsafat adalah sebuah sebuah pandangan dalam mencari kebenaran tentang ilmu pengetahuan tampa terikat metode ilmia asalkan masuk akal. Sehingga terkadang mengenai satu objek memiliki beberapa pandangan tentang pemikiran tersebut. sama halnya. Ada sebuah pertanyaan bagaiman Kopi. Kopi itu hitam kata orang A. Sedangkan kata Orang satunya Coklat. Itu adalah sebuah kebenaran subjektif. Itulah mengapa setiap teori itu berbeda karena mereka memiliki pandangan masing-masing mengenai satu objek tersebut.
c. Aksiologi Filsafat
     Tidak semua orang perlu mengetahui filsafat. Tetapi orang yang perlu berpartipasi dalam membangun dunia perlu mengetahui filsafat.[9] Kegunaan filsafat adalah filsafat sebagai ilmu kritik dengan sendrinya kita peka terhadap analisis karena logika sering dimainkan.
3.2 Pengetahuan Mistik
            Pengetahuan mistik adalah pengetahuan supra-rasional tentang objek yang supra-rasional. (Prof. Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Ilmu. Rosda: 2010. Hal. 111). Maka dapat disimpulkan disini supra-rasional sendiri adalah logis. Menurut imanuel kant logis adalah. Rasional dan supra-rasional. Supra-rasiobal atau logis adalah sesuatu yang bisa ditangkap oleh akal akan tetapi tidak diatur oleh hukum alam (bebas asalkan masuk akal).
       a. Ontologi mistik.
Ilmu misti merupakan ilmu yang tidak rasional ( Masuk akal akan tetapi diatur oleh hukum alam. Atau sebab akibat dalam ilmu mistik tidak dapat dipahami oleh rasio.
Dilihat dari beberapa sifatnya mistika dapat dibagi menjadi beberapa yaitu[10]:
·         Mistik biasa, adalah mistik tampa kekuatan tertentu.
·         Mistik magis: mistik magis adalah mistik yang memiliki kekuatan tertentu dan memiliki tujuan tertentu. Ilmu mistik magispun dibagi menjadi 2. Yaitu ilmu Mistik-Magis-putih, dan Ilmu Mistik-Magis-Hitam. Ilmu Mistik-Magis-putih adalah ilmu mistik mistik yang turunya dari Tuhan. Adari keyakinan agama yang mengatakan ilmu Mistik-megais-putih ilmu yang turun dari agama langit. Maksudnya disini yang diproleh dari sang pencipta yang secara murni tampa ada meminta bantuan dari jin.
     Sedangkan Ilmu Mistik-Magis-hitama adalah ilmu yang didapatkan dari luar agama. Atau meminta bantuan dari jin. Dengan memberikan sesajen. Tetapi terkadang kita tidak dapat membedakkan kedua ilmu tersebut, karena dalam penggunaannya dapat kita ketahui. Jika ilmu mistik-magis-putih cara pengucapannya dengan dzikir. Dll, sedangkan ilmu-mistik-putih yaitu dengan cara membaca mantra, jampi-jampi. Yang kedua ini sama perakteknya.
     Tetapi jelas kita lihat perbedaannya disini dari segi kepada siapa dia meminta, apa bacaan yang dia ucapkkan.
b. Epistemologi Mistik
               jika ada orang ingin tahu, mengapa buah asem rasanya asem, maka dia mengambil buah asam, dan kemudian ia cicipi, maka yang dia rasakan manis. Ini ilmu pengetahuan (sains) yang rasional dan emperis. Dan kemudian ada petanyaan kenapa bisa asam maka dia berfikir bahwa ada hukum alam. Ini adlah ilmu filsafat, dan kemudian ada yang bertanya siapa yang mengatur hukum alam. Jawabannya tuhan itu filsafat. Kemudian siapa itu tuhan. Maka yang mampu menjawab ini adalah ilmu mistik. Maka dapat dismpulkan ilmu mistik itu adalah ilmu yang menggunakan perasaaan.
     Objek kajian mistik adalah hal-hal yang gaib seperti tuhan, surga, malaikat, jin dll. Adapun ilmu mistik yang hanya dapat kita ketahui. Bahwa ilmu mistik hanya kita ketahui, contohnya, pelet santet. Itupun bisa kita lihat hasilnya orang yang kena santet maka akan terasa sakit.
c. Aksiologi Mistik
               jelas disini kita dapat ketahui pengetahuan mistik banyak digunakan orang untuk menyembuhkan. Untuk menunjukkan kuasa tuhan. Inilah ilmu mistik-magis-putih. Sedangkan ilmu Mistik-magis-hitam. Kadang digunakan untuk melukai orang. Contohnya santet. Maka dapat disimpulkan bahwa jika ilmu mistik didapatkan dari hal-hal buruk maka kegunaannya buruk juga. Begitu juga sebaliknya.




[1] Drs. M. Zainuddin, MA. Filsafat ilmu: Perspektif Pemikiran Islam. Lintas Pustaka: 2006. Hal. 24
[2] Sesuatu yang bermakna intrinsik nilai-nilai humanisme (-menghidupkan rasa berprikemanusiaan mencita-citakanpergaulan hidup yang lebih baik,-  preradaban manusia )
[3] Pengalaman indera. Prof.Dr. Ahmad  Tafsir. Filsafat ilmu. Rosda: 2010. Hal. 27
[4] Humanisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam.  Prof. Dr. Ahmaad  Tafsir. Filsafatilmu. Rosda: 2010. Hal. 28
[5] Prof Dr. Ahmad Tafsir. Filsafatilmu. Rosda: 2010. Hal. 36
[6] Prof Dr. Ahmad Tafsir. Filsafatilmu. Rosda: 2010. Hal. 37
[7] Drs. M . Zainuddin, MA .Filsafat Ilmu perspektif pemikiran islam. Lintas Pustaka: 2006. Hal.20
[8] Fauz Noor. Tapak Sabda. Lkis: 2009. Hal.163
[9] Prof. Drs. Ahmad  Tafsir. Filsafta ilmu. Rosda: 2010. Hal. 89
[10] Prof. Drs. Ahmad  Tafsir. Filsafta ilmu. Rosda: 2010. Hal. 114

No comments:

Post a Comment