| Kasus Dispraksia |
Terkadang
dari beberapa orang berpendapt bahwa anak-anak yang telat atau pun sering kali
melakukan suatu kesalahan, dan sulit berbicara atau mengeja tulisan. Oleh
beberapa orang menganggap ini disleksia. Disleksia
itu sendiri adalah gangguan pada penglihatan
pendengaran yang disebabkan oleh saraf pada otak sehingga anak mengalami
kesulitan membaca.[1]
Dan sebagian dari kita semua umumnya masyarakat indonesia tidak mengetahui
atau masih asing bahasa dispraksia. Dan juga tidak mungkin kasus dispraksia
bisa saja terjadi pada anak indonesia. Untuk lebih memahaminya kita dapat
mengfokuskan pada pembahsan dispraksia.
1. Pengertian Dispraksia
Dispraksia berasal dari kata “Dys” yang artinya
tidak mudah atau sulit dan “praxis” yang artinya bertindak, melakukan.
Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor
Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih
dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan
ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan
gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.
Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah
gangguan atau ketidak matangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat kurang
mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau
benar ditransmisikan. Dispraksia jelas juka mempengaruhi pada suatu kegiatan
sehari-hari melihat. Jika ketidak matangan anak memproses data-data yang
peroleh. Ataupun otaknya kurang mampu seperti yang dijelaskan diatas maka. Anak
yang mengalami dispraksia kinerjaya lemot,(bahasa sekarang). Maka dengan
sendirinya anak seperti ini juga akan mempengaruhi sisi psikologinya.
Teman-temannya akan menjauhinya. Selalu jadi bahan ejekan oleh teman-temannya.
Perkembagan pola pikirnya lama.
Menurut Belinda Hill, speech pathologist di Australian
Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc. di New South Wales,
dispraksia bukanlah gangguan yang terjadi pada otot dan gangguan kecerdasan
walaupun akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan. Masalah
dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa
yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga
otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak
dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal
ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat
gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga
rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan
perilaku.
Gejala-gejala
Dispraksia
Dispraksia terkadang diatandai dengan sedikitnya
omelan dari anak kecil tersebut atau suka berdiam. Ketika banyi terkadang bayi
normal sering berbicara sendiri dan mengeluarkan ocehan. Tetapi pada bayi yang
dispraksia suka berdiam diri. Dan banyak hal-hal yang ia tak bisa ucapkan.
Seperti huruf-huruf konsonan.
Pada anak usia 3 – 5 tahun (usia pra
sekolah)
Aktivitas
motorik pada anak yang dispraksia terkadangan suka menari-nari, duduk
tepuk-tepuk tangan. Menggoyang-goyangkan kaki. Pada usia 3-5 tahun anak dispraksa
ketika ketika berlari tangannya mengembang. Ketika dibrikan mainan dia suka
menguyah mainan tersebut. dan juga dapat kita pahami dari berbagai contoh dari
segi keterampilan terkadang anak usia ini sudah sebagian masuk TK dan sudah
mulai bisa memegang pensil dan memegang gunting sedangkan pada anak yang
terkena dispraksia sukar memegang pensil atau menggunakan gunting. Keterampilan
halus yang jelek. Terkadang suka menggambar sembarang. Sulit memahami gambar.
Menggambar lingkaran hanya menggambar garis saja.
Bukan hanya beberapa itu
terkadang seperti yang sudah saya katakan diatas bahwa susuah mengucapkan
huruf-huruf konsonan. Maka dengan sendirinya anak yang mengalami dispraksia
akan kesulitan berbahasa terus-menerus. Terkadang anak yang mengalami
dispraksia tersebut mengalami kesalahan berulang-ulang. Seperti orang gugup
dalam berbahasa. Dan dapat juga kita ketahui anak dispraksia ini suka menguyah
mainan, dan minat melakukan suatu permainan yang imajinatif kurang. Ketika ada
sebuah mainan yang diberikan kepadanya. Anak tersebut bukan membuat suatu
permaianan. Tetapi ia mengambil mainan tersebut dan menguyahnya.
Dapat juga kita ketahui
ketika kita melihat anak kecil terkadang diberikan uang untuk membeli makanan
atau sejenis lainnya. Malah uang tersebut yag dimakan. Tekanan pada diri anak
kecil tersebut juga sangat tinggi. Kadang sebagai orang tua memarahinya. Ini
disebabkan karena Respon intuksi lisan pada apa saja terbatas. Ketika anak
kecil tersebut disuruh makan malah ia merasa duduk saja.
Dispraksiapun dapat
dilihat dari segi kemampuan. Saat makan ia kesulitan ketika makananya berupa
sesuatu hal yang padat. Seperti makanan yang agak keras. Pada masih banyi juga
sebelumnya anak dispraksia ini sukar berguling, merangkak, dan sukar berjalan.
Dan sukar mempelajari hal-hal yang baru. Terkadang anak kecil suka meniru-niru
apa yang mereka lihat dari tingkah lakunya ataupun dari segi bahasanya. Tetapi
anak yang mengalami dispraksia terkadang sulit untuk menirukan hal tersebut.
Pada anak yang lebih besar (usia sekolah)
Pada anak dispraksia pada
usia yang lebih besar yaitu pada usia sekolah masih bawaan atau kesulitan yang
awal masih terlihat. Salah satunya yaitu kesulitan dalam berkata-kata maupun
mengepresikan diri. Jelas ini sangat berpengaruh pada pola pikirnya yang
lambat. Dan satu hal yag akan terjadi dalam kelasnya adalah ada keterasingan.
Ada sifat diskriminatif dari teman-teman kelasnya.
Anak dispraksiapun
terkadang menyendiri diri. Terkadang persaanya mudah tersinggung dan sebagian
anak dispraksia terlalau sensitif terhadap sentuhan. Ketika ia disentuh
terkadang ia langsung tanggap. Ataupun ia langsung mengambil jurus (bahasa
kasarnya). Dan hal-hal yang menjadi prihatin pada perkembanganya dan keadaannya
yaitu terkadang anak dispraksia sukar mengingat intruksi. Inipun dipenagruhi
oleh tingkat ganguan pada proses pola pikirnya dan gangan pada sistem sarafnya
pada alat pendengarannya.
Anak yang mengalami
dispraksia juga mengalami beberapa hal yang dapat mempenagruhi aktivitasnya.
Dan hal ini terkadang membuat guru-guru marah jika guru tersebut tidak
memahaminya. Karena pada anak yang mengalami dispraksia juga sangat sulit
menyalin tulisan-tulisan dipapan. Dan
sangat merepotkan kebanyakan khasus juga masih banyak anak yang usia sekolah
belum bisa memakai baju. Inilah contoh dari anak yang mengalami dispraksia.
Dari beberapa anak yang mengalami dispraksia juaga terkadang sulit membedakan
warna-warna. Ataupun konsepnya sebenarnya ia tahu warna itu tetapi konsep
membedakan warna-warna tersebut terkadang ia slah dalam merumuskan. Terkadang
ia tahu warna pelangi akan tetapi warna merah ia katakan warna hijau atau yang
lain.
Keseimbanagan tubuh kurang
pada anak yang menagalami dispraksia sehingga untuk belajar naik sepeda sangat
memburuhkan waktu yang lama. Bukan dalam keseimbaagan tubuhnya yang sangat
prihatin tetapi juga anak yang mengalami dipraksia mengalami kesulitan dalam
membaca dan menulis. Maka anak tersebut ketinggalan informasi. Teman-temannya
yang lain sudah bisa membaca ia belum maka akan terjadi keterasingan.
2. Pengertian Developmental Verbal Dyspraxia
(DVD)
Developmental Verbal Dyspraxia (DVD) adalah suatu kondisi bicara
yang dihasilkan dari ketidakmatangan pada bagian otak yang mngurusi tentang
bicara. Anak mengalami kesulitan dalam membuat bunyi suara yang konsisten
karena daerah bicaranya tidak dapat mengirim pesan-pesan yang konsisten pada
perangkat bicara. Dalam hal ini adalah lidah, bibir, laring, dan sebagainya.
Gejala-gejala
DVD
pada anak yang mengalami DVD
ada beberapa point penting yang terkandung didalamnya, yaitu ada beberapa anak
yang ketampilannya terlihat normal maka kadang kita memeberikan dia semanagat.
Akan tetapi kita membiarkannya dengan sendiri belajar tampa memperhatikannya
dengan beberapa pandangan. Tetapi pada anak juga sering terjadi keterampilan
menerima bahasa yang normal atau dibawah rata-rata tapi terjadi penundaan
keterampilan mengepresikan bahasa. Maka terkadag kita sering mendengar bahasa
Anak-anak memahami atau mengerti lebih baik daripada saat dia berbicara.
Tidak
jauh beda dengan dispraksia maka juga terkadag dispraksia diakatan sama denaga
DVD karena pada anak yang mengalami DVD pada trahun pertama terjadi
perkembangan yang sangat lambat. Adanya regressi dalam berbicara seperti contoh
kata-kata yang sudah ia pelajari menjadi hilang. Atau terkadang anak-anak
disruh menghafalkan sebuah rumuh. Ia hafal akan tetapi setelah beberapa waktu
anak tersebut lupa.
Perlu
diketahui juga anak yang mengalami DVD akn terjadi sebuah perkembanagan pada
usia yang lebih tua. Dari segi keajuan berbicaranya. Ia akan merasa mudah
mengucapkan kata-kata yang sulit. Dan
pada perkataan-perkatan yang mengalami ketidak konsistenan bunyi-bunyi bicara
pada permulaan tahun-tahun pertama. Peruabahan-perubahan tersebut juga dapat dipengaruhi
oleh tekanan. Orang lain dapat membentuk pola nada dalam anak yang seperti ini.
Jangankan ornag yanag mengalami DVD, orang biasa juga terkadang meniru-niru.
Tetapi agak tidak pada suatu tekanan. Akan tetapi anak yang mengalami DVD,
sangat dipenagruhi pola nadanya pada suatu tekaan yang berbeda.
3. Global Dyspraxia
Ada lagi dispraksinya yang lebih
umum. Atau lebih mengglobal yang sering terjadi yaitu Global Dyspraksia (global
dyspraxia). Adapun ciri-ciri anak yang mengalami dispraksia global yaitu
perkembangan sel-selnya terlambat. Dan kontrol juga sangat terlambat. Ciri-ciri
anak yang mengalami Global Dyspraksia tampak sejak lahir seperti mempunyai
refleks menghisap yang sangat lemah seperti saat baru lahir, hal ini dapat
mengindikasikan pada kesulitan suatu bayi pada saat menyusi.
4. Terapi
untuk Anak Dispraksia
Kita
dapat memabntu anak yang mengalami disparaksia dengan sebuah terapi. Dan juga
penekanan dalam memahami sesuatu. Adapun sikapa yang harus dilakukan yaitu
menumbuhkan keyakina. Dan mencoba memberikan rasa tanggung jawab kepada anak
yang mengalami dispraksia. Dengan sendirinya rasa akan keberhasilan akan
tumbuh. Memang tidak mudah tetapi akan ada perubahan ketika pola otaknya diasa.
Ataupun otaknya yang dulu tidak mudah menerima informasi. Dengan keterbiasaan
maka otak akan bekerja dengan baik.
Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung
dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat
kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh
sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.
Refrensi
·
Aurini. Dispraksia.
Blogspot My Sweet Audrina., 2008. Online update kamis, 03 Mei 2012.
·
Sandra manunggal. Dispraksia.
http://www.scribd.com. 2012. Online update kamis, 03 Mei 2012
·
Nur athirah. Dispaksi.
http://www.scibd.com. 2012. Online
update jum’at, 04 Mei 2012
No comments:
Post a Comment