Tuesday, March 18, 2014

DISPRAKSIA

Kasus Dispraksia
          Terkadang dari beberapa orang berpendapt bahwa anak-anak yang telat atau pun sering kali melakukan suatu kesalahan, dan sulit berbicara atau mengeja tulisan. Oleh beberapa orang menganggap ini disleksia. Disleksia itu sendiri adalah gangguan pada penglihatan  pendengaran yang disebabkan oleh saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca.[1] Dan sebagian dari kita semua umumnya masyarakat indonesia tidak mengetahui atau masih asing bahasa dispraksia. Dan juga tidak mungkin kasus dispraksia bisa saja terjadi pada anak indonesia. Untuk lebih memahaminya kita dapat mengfokuskan pada pembahsan dispraksia.
1. Pengertian Dispraksia
Dispraksia berasal dari kata “Dys” yang artinya tidak mudah atau sulit dan “praxis” yang artinya bertindak, melakukan. Nama lain Dispraksia adalah Development Co-ordination Disorder (DCD), Perceptuo-Motor Dysfunction, dan Motor Learning Disability. Pada jaman dulu lebih dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. Menurut penelitian, gangguan ini kadang diturunkan dalam keluarga dan gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip misalnya disleksia.
Menurut penelitian secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidak matangan anak dalam mengorganisir gerakan akibat kurang mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar ditransmisikan. Dispraksia jelas juka mempengaruhi pada suatu kegiatan sehari-hari melihat. Jika ketidak matangan anak memproses data-data yang peroleh. Ataupun otaknya kurang mampu seperti yang dijelaskan diatas maka. Anak yang mengalami dispraksia kinerjaya lemot,(bahasa sekarang). Maka dengan sendirinya anak seperti ini juga akan mempengaruhi sisi psikologinya. Teman-temannya akan menjauhinya. Selalu jadi bahan ejekan oleh teman-temannya. Perkembagan pola pikirnya lama.
Menurut Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc. di New South Wales, dispraksia bukanlah gangguan yang terjadi pada otot dan gangguan kecerdasan walaupun akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan. Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Keluarga yang hidup dengan anak dispraksia sering kali biasanya tidak menyadari kondisi anak dengan segera. Hal ini menyebabkan anak dispraksia mempunyai kepercayaan diri yang rendah akibat gangguan yang dideritanya dan kekurangtahuan keluarga. Anak dispraksia juga rawan terhadap gangguan depresi serta mempunyai kesulitan dalam emosi dan perilaku.
Gejala-gejala Dispraksia
Dispraksia terkadang diatandai dengan sedikitnya omelan dari anak kecil tersebut atau suka berdiam. Ketika banyi terkadang bayi normal sering berbicara sendiri dan mengeluarkan ocehan. Tetapi pada bayi yang dispraksia suka berdiam diri. Dan banyak hal-hal yang ia tak bisa ucapkan. Seperti huruf-huruf konsonan.
Pada anak usia 3 – 5 tahun (usia pra sekolah)
            Aktivitas motorik pada anak yang dispraksia terkadangan suka menari-nari, duduk tepuk-tepuk tangan. Menggoyang-goyangkan kaki. Pada usia 3-5 tahun anak dispraksa ketika ketika berlari tangannya mengembang. Ketika dibrikan mainan dia suka menguyah mainan tersebut. dan juga dapat kita pahami dari berbagai contoh dari segi keterampilan terkadang anak usia ini sudah sebagian masuk TK dan sudah mulai bisa memegang pensil dan memegang gunting sedangkan pada anak yang terkena dispraksia sukar memegang pensil atau menggunakan gunting. Keterampilan halus yang jelek. Terkadang suka menggambar sembarang. Sulit memahami gambar. Menggambar lingkaran hanya menggambar garis saja.
            Bukan hanya beberapa itu terkadang seperti yang sudah saya katakan diatas bahwa susuah mengucapkan huruf-huruf konsonan. Maka dengan sendirinya anak yang mengalami dispraksia akan kesulitan berbahasa terus-menerus. Terkadang anak yang mengalami dispraksia tersebut mengalami kesalahan berulang-ulang. Seperti orang gugup dalam berbahasa. Dan dapat juga kita ketahui anak dispraksia ini suka menguyah mainan, dan minat melakukan suatu permainan yang imajinatif kurang. Ketika ada sebuah mainan yang diberikan kepadanya. Anak tersebut bukan membuat suatu permaianan. Tetapi ia mengambil mainan tersebut dan menguyahnya.
            Dapat juga kita ketahui ketika kita melihat anak kecil terkadang diberikan uang untuk membeli makanan atau sejenis lainnya. Malah uang tersebut yag dimakan. Tekanan pada diri anak kecil tersebut juga sangat tinggi. Kadang sebagai orang tua memarahinya. Ini disebabkan karena Respon intuksi lisan pada apa saja terbatas. Ketika anak kecil tersebut disuruh makan malah ia merasa duduk saja.
            Dispraksiapun dapat dilihat dari segi kemampuan. Saat makan ia kesulitan ketika makananya berupa sesuatu hal yang padat. Seperti makanan yang agak keras. Pada masih banyi juga sebelumnya anak dispraksia ini sukar berguling, merangkak, dan sukar berjalan. Dan sukar mempelajari hal-hal yang baru. Terkadang anak kecil suka meniru-niru apa yang mereka lihat dari tingkah lakunya ataupun dari segi bahasanya. Tetapi anak yang mengalami dispraksia terkadang sulit untuk menirukan hal tersebut.
Pada anak yang lebih besar (usia sekolah)
            Pada anak dispraksia pada usia yang lebih besar yaitu pada usia sekolah masih bawaan atau kesulitan yang awal masih terlihat. Salah satunya yaitu kesulitan dalam berkata-kata maupun mengepresikan diri. Jelas ini sangat berpengaruh pada pola pikirnya yang lambat. Dan satu hal yag akan terjadi dalam kelasnya adalah ada keterasingan. Ada sifat diskriminatif dari teman-teman kelasnya.
            Anak dispraksiapun terkadang menyendiri diri. Terkadang persaanya mudah tersinggung dan sebagian anak dispraksia terlalau sensitif terhadap sentuhan. Ketika ia disentuh terkadang ia langsung tanggap. Ataupun ia langsung mengambil jurus (bahasa kasarnya). Dan hal-hal yang menjadi prihatin pada perkembanganya dan keadaannya yaitu terkadang anak dispraksia sukar mengingat intruksi. Inipun dipenagruhi oleh tingkat ganguan pada proses pola pikirnya dan gangan pada sistem sarafnya pada alat pendengarannya.
            Anak yang mengalami dispraksia juga mengalami beberapa hal yang dapat mempenagruhi aktivitasnya. Dan hal ini terkadang membuat guru-guru marah jika guru tersebut tidak memahaminya. Karena pada anak yang mengalami dispraksia juga sangat sulit menyalin tulisan-tulisan dipapan.  Dan sangat merepotkan kebanyakan khasus juga masih banyak anak yang usia sekolah belum bisa memakai baju. Inilah contoh dari anak yang mengalami dispraksia. Dari beberapa anak yang mengalami dispraksia juaga terkadang sulit membedakan warna-warna. Ataupun konsepnya sebenarnya ia tahu warna itu tetapi konsep membedakan warna-warna tersebut terkadang ia slah dalam merumuskan. Terkadang ia tahu warna pelangi akan tetapi warna merah ia katakan warna hijau atau yang lain.
            Keseimbanagan tubuh kurang pada anak yang menagalami dispraksia sehingga untuk belajar naik sepeda sangat memburuhkan waktu yang lama. Bukan dalam keseimbaagan tubuhnya yang sangat prihatin tetapi juga anak yang mengalami dipraksia mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Maka anak tersebut ketinggalan informasi. Teman-temannya yang lain sudah bisa membaca ia belum maka akan terjadi keterasingan.
2. Pengertian Developmental Verbal Dyspraxia (DVD)
Developmental Verbal Dyspraxia (DVD) adalah suatu kondisi bicara yang dihasilkan dari ketidakmatangan pada bagian otak yang mngurusi tentang bicara. Anak mengalami kesulitan dalam membuat bunyi suara yang konsisten karena daerah bicaranya tidak dapat mengirim pesan-pesan yang konsisten pada perangkat bicara. Dalam hal ini adalah lidah, bibir, laring, dan sebagainya.
Gejala-gejala DVD
        pada anak yang mengalami DVD ada beberapa point penting yang terkandung didalamnya, yaitu ada beberapa anak yang ketampilannya terlihat normal maka kadang kita memeberikan dia semanagat. Akan tetapi kita membiarkannya dengan sendiri belajar tampa memperhatikannya dengan beberapa pandangan. Tetapi pada anak juga sering terjadi keterampilan menerima bahasa yang normal atau dibawah rata-rata tapi terjadi penundaan keterampilan mengepresikan bahasa. Maka terkadag kita sering mendengar bahasa Anak-anak memahami atau mengerti lebih baik daripada saat dia berbicara.
            Tidak jauh beda dengan dispraksia maka juga terkadag dispraksia diakatan sama denaga DVD karena pada anak yang mengalami DVD pada trahun pertama terjadi perkembangan yang sangat lambat. Adanya regressi dalam berbicara seperti contoh kata-kata yang sudah ia pelajari menjadi hilang. Atau terkadang anak-anak disruh menghafalkan sebuah rumuh. Ia hafal akan tetapi setelah beberapa waktu anak tersebut lupa.
            Perlu diketahui juga anak yang mengalami DVD akn terjadi sebuah perkembanagan pada usia yang lebih tua. Dari segi keajuan berbicaranya. Ia akan merasa mudah mengucapkan kata-kata yang sulit.  Dan pada perkataan-perkatan yang mengalami ketidak konsistenan bunyi-bunyi bicara pada permulaan tahun-tahun pertama. Peruabahan-perubahan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh tekanan. Orang lain dapat membentuk pola nada dalam anak yang seperti ini. Jangankan ornag yanag mengalami DVD, orang biasa juga terkadang meniru-niru. Tetapi agak tidak pada suatu tekanan. Akan tetapi anak yang mengalami DVD, sangat dipenagruhi pola nadanya pada suatu tekaan yang berbeda.
3. Global Dyspraxia
            Ada lagi dispraksinya yang lebih umum. Atau lebih mengglobal yang sering terjadi yaitu Global Dyspraksia (global dyspraxia). Adapun ciri-ciri anak yang mengalami dispraksia global yaitu perkembangan sel-selnya terlambat. Dan kontrol juga sangat terlambat. Ciri-ciri anak yang mengalami Global Dyspraksia tampak sejak lahir seperti mempunyai refleks menghisap yang sangat lemah seperti saat baru lahir, hal ini dapat mengindikasikan pada kesulitan suatu bayi pada saat menyusi.
4. Terapi untuk Anak Dispraksia
            Kita dapat memabntu anak yang mengalami disparaksia dengan sebuah terapi. Dan juga penekanan dalam memahami sesuatu. Adapun sikapa yang harus dilakukan yaitu menumbuhkan keyakina. Dan mencoba memberikan rasa tanggung jawab kepada anak yang mengalami dispraksia. Dengan sendirinya rasa akan keberhasilan akan tumbuh. Memang tidak mudah tetapi akan ada perubahan ketika pola otaknya diasa. Ataupun otaknya yang dulu tidak mudah menerima informasi. Dengan keterbiasaan maka otak akan bekerja dengan baik.
Anak dispraksia biasanya dapat disembuhkan tergantung dari tingkat keparahannya. Ada kemungkinan kambuh beberapa kali tapi tingkat kesukaran dalam koordinasi gerakan akan semakin menurun. Anak juga bisa sembuh sendiri namun lebih lambat dan tidak seefisien jika ditangani oleh terapis.
Refrensi
·         Aurini. Dispraksia. Blogspot My Sweet Audrina., 2008. Online update kamis, 03 Mei 2012.
·         Sandra manunggal. Dispraksia. http://www.scribd.com. 2012. Online update kamis, 03 Mei 2012
·         Nur athirah. Dispaksi. http://www.scibd.com. 2012. Online update jum’at, 04 Mei 2012





[1] KBBI (amplikasi online)

No comments:

Post a Comment